Wednesday, 9 January 2013

Lamjame, Siap Jadi Desa Donor (Darah) Siaga

Desa Donor Siaga ? Pada belum tahukan ?

Add caption
Desa Donor Siaga, kami gagas agar para penderita penyakit kelainan darah atau khususnya Thalassemia bisa mendapatkan  darah kapanpun dibutuhkan. Maklumlah, kebutuhan darah di Aceh sangat tinggi dan berbanding terbalik dengan persediaan darah yang ada di Palang Merah Indonesia (PMI). Karena itu, kami berinisiatif membuat gerakan Desa Donor Siaga. Nantinya, tiap-tiap desa menyediakan kebutuhan darah untuk masing-masing warganya - dari warga untuk warga.

Untuk langkah awal, desa yang dijadikan pilot project Desa Lamjame Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Jadilah Rabu (9/1/2013) kemarin, kami melakukan pertemuan dengan Pak Yusrizal, SAg yang menjabat sebagai pak keuchik (kepala kampung). Meski awalnya bingung, akhirnya Pak Yusrizal menyetujui gerakan ini. Kebetulan dari Desa Lamjame, ada satu penderita Thalassemia.

Tak tanggung, untuk mendukung gerakan ini, persiapan untuk donor massal akan dilakukan pada 9 Februari 2013 mendatang. Sungguh kami terharu dengan sambutan yang luar biasa ini. Tak hanya itu, akan diusahakan juga setiap pendonor akan melakukan donor darah 4 kali setahun. Luar biasa kan.

Terimakasih untuk semua dukungan #10for1thalassemiauntukAceh :)


Tuesday, 8 January 2013

Jadilah #10For1ThalassemiauntukAceh


Add caption

Tak ada kesakitan di wajahnya. Senyum dan tawanya merekah. Bicaranya lancar. Padahal, di saat yang sama, selang transfusi darah terus mengalir ke nadinya. Begitulah, kegiatan saban bulan M.Firdaus, 30 tahun - harus menjalani transfusi darah. Tapi penyakit Thalassemia yang menggerogoti tubuhnya dan ketiadaan limpa tidak lantas membuat hidupnya jadi patah arang. Thalassemia merupakan penyakit kelainan pembentukan sel darah merah.

 

Daus, demikian dia dipanggil. Kesibukannya setiap hari menjadi wasit di lapangan tennis di salah satu kawasan di Banda Aceh. Jika dia tak berucap tentang sakitnya, pastilah tak ada yang tahu kalau Daus mengidap Thalasemia dan hidup tanpa limpa. Tak hanya sibuk di lapangan tennis, Daus juga jago main catur. Beberapa kejuaraan catur di Banda Aceh sudah dijajalnya.

 

 “Tanggal 18 Desember nanti saya ikut kejuaran catur,” ujarnya berpromosi. “Boleh saya ikut nonton,” tanyaku. “Boleh kali, datang aja,” katanya sembari tersenyum 

 

Ketika  @DarahUntukAceh. datang siang itu, banyak Daus-Daus lain di ruang Thalassemia di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh. Mulai dari yang berusia 4 tahun sampai berusia 38 tahun. Dari cacatan RSUZA, ada sekitar 150 penderita Thalassemia di Aceh. Tetapi jumlah ini ternyata yang terdata. Karena masih banyak orang tua karena ketidakmampuan secara ekonomi dan ketiadaan pengetahuan, tidak memeriksakan anak-anaknya. Artinya, masih banyak lagi penderita Thalassemia lainnya di luar sana.

 

Dari beberapa literatur disebutkan, semua  penderita penyakit Thalassemia  memiliki  gejala  yang  mirip, tetapi  beratnya  bervariasi. Sebagian besar penderita mengalami anemia yang ringan. Pada  bentuk  yang  lebih berat,  bisa menderita sakit kuning,  luka  terbuka  di kulit, batu empedu dan pembesaran limpa. Gejala Thalassemia dapat dilihat  ketika anak berusia 3 bulan hingga 18 bulan. Untuk memastikan seseorang mengalami Thalasemia atau tidak, harus dilakukan dengan pemeriksaan  darah.


Pada Thalassemia yang berat, diperlukan transfusi darah rutin dan pemberian tambahan asam folat. Penderita  yang  menjalani  transfusi,  harus  menghindari tambahan zat besi. Pada  penderita yang  sangat  berat, diperlukan pencangkokan sumsum tulang. 
Kebutuhan darah bagi para penderita thalasemia di Aceh sangat tinggi. Penderita Thalassemia Aceh tertinggi nasional : 13,5 % (MenKes 2010). 

Thalassemia adalah penyakit yang sifatnya diturunkan. Karenanya, pada  anggota keluarga dengan  riwayat  thalasemia harus memeriksakan dirinya sebelum menikah.


Jika suami atau istri merupakan pembawa sifat (carrier) Thalassemia, maka anak  mereka  memiliki  kemungkinan  sebesar  25 persen  untuk  menderita Thalassemia. Ayo, peduli Thalassemia. Jadilah salah satu donor bagi penderita Thalassemia. Jadilah bagian dari Program #10For 1Thalassemia untuk Aceh. 

 

 

Untuk info lebih lanjut, sila kontak Darah Untuk Aceh atau follow akun @DarahUntukAceh dan kunjungi page di FB Darah Untuk Aceh. Dapat juga berkirim email ke Info[at]darahuntukaceh[dot]org. 

 

 *foto dan teks dikutip dari blog Blog Raihan Lubis   

 

Monday, 7 January 2013

Yuk Diving ke Pulau Batee, Aceh Besar

Keindahan bawah laut Pulau Batee, Aceh Besar
Foto: Discover Aceh Divers Club


Yippiee…nyelam lagi bareng teman-teman Discover Aceh DiversClub . Kali ini tidak jauh-jauh spot yang kami kunjungi- Pulau Batee Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh,dengan menggunakan boat kecil. Begitu semua sudah kumpul dan siap dengan perlengkapan, kami langsung meluncur.

Sekitar 20 menit, tibalah di spot yang sudah kami incar. Pulau Batee atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Pulau Batu, memiliki luas sekitar 70-100 hektar. Tak ada manusia yang tinggal di pulau ini, hanya hewan-hewan seperti babi hutan, monyet, beragam jenis burung dan juga binatang lainnya yang ada di sana. Konon ceritanya, pulau yang terletak di ujung Pulau Sumatera ini merupakan pulau pribadi warisan dari keluarga Teuku Teungoh Meuraxa. Demikian dikutip dari blog iloveaceh. Meski bernama Pulau Batu, tak melulu semua kawasan pulau merupakan bebatuan. Tanaman khas pantai menyebar di mana-mana. 

Keindahan bawah laut Pulau Batee, Aceh Besar
Foto: Discover Aceh Divers Club
Setelah memandang indahnya Pulau Batee, langsung saja kami nyebur. Byurrrrrr. Begitu nyebur, tatapan mata  bersirobok dengan sekawanan ikan-ikan schooling fish. Ikan-ikan kecil warna warni ini umumnya berenang secara bergerombol. Sungguh pemandangan yang membuat pikiran langsung menjadi tenang, meski arus terhitung lumayan deras di Minggu (6/1/2013) pagi itu.

Tak hanya gerombolan schooling fish, beragam terumbu karang juga memanjakan mata para penyelam. Selain itu juga, banyak ditemukan cumi. lobster, gurita dan mantis shrimp - udang dengan warna-warna unik. Jika beruntung para penyelam bisa ketemu dengan penyu.

Diiving kali ini tak hanya mengeksplor kawasan spot Pulau Batee dan juga spot-spot penyelaman di luar kawasan Pulau Sabang. Tetapi juga sebagai bentuk dukungan perlindungan terhadap terumbu karang. Soalnya, kami lagi mendukung aksi Earth Hour untuk Aceh. Lihat saja beberapa fotonya. Jadi, ini aksiku, mana aksimu…


Ini Aksiku, Mana Aksimu. Dukung Earth Hour Aceh!
Foto: Discover Aceh Divers Club