Ekses Pengangguran
Tidak
banyak yang bisa saya share tentang kegiatan yang saya geluti
sekarang, belum pantas saya disebut sebagai seorang aktifis karena apa yang
saya lakukan bersama teman-teman di Komunitas Darah Untuk Aceh hanya sebatas
berkontribusi dengan apa yang saya lihat bertolak belakang dengan
apa yang saya alami.
Bermula
ketika almarhumah Ibu saya dirawat sampai 2 bulan di rumah sakit, penyakit tua
nya mengharuskan transfusi darah sampai dengan 10 kantong dan saya begitu mudah
mendapatkannya, karena saya mempunyai banyak kawan dan semuanya bersedia
membantu, bahkan lebih dari kebutuhan.
Setahun
setelah “kepergian” Ibu saya juga resign dari seorang profesional sebagai
District Manager di sebuah perusahaan swasta nasional, minggu pertama masih happy
dan tanpa kendala, saya terbebas dari rutinitas yang “membosankan” tetapi
ternyata itu awal dari masalah, karena saya yang biasanya produktif
dan kreatif harus diam dirumah, terus terlintas dibenak saya “kalau begini
terus saya bisa mati, saya tidak mau mati (tidak produktif) karena saya tidak
bekerja secara professional, pasti ada cara yang lain.”
Tanpa
saya sadari sudah 2 bulan sebagai “pengangguran” April datang, saya teringat
tentang yayasan lingkungan yang saya punya Yayasan Bumiku Hijau (YABUMI) yang
kami dirikan pada tanggal 24 April 2009, saya rencanakan untuk donor darah
massal, tapi saya juga tidak ingin seperti yang lain, donor darah massal hanya
pada momen ulang tahun atau event-event tertentu saja, sementara saya ingin ini
berkelanjutan. Tapi bagaimana caranya?
Darah Untuk Aceh
Akhirnya ajak
teman-teman untuk bersama-sama buat suatu komunitas yang saya beri nama “Darah
Untuk Aceh”, komunitas yang saya dedikasikan untuk almarhumah Ibu saya dalam kesederhanaannya
tapi bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan
semangat membagi kemudahan akhirnya terbentuk Darah Untuk Aceh bekerjasama
dengan PMI Kota Banda Aceh. Awalnya komunitas ini akan bergerak untuk
menggalang donor darah untuk memenuhi kebutuhan darah di Unit Donor Darah PMI
Kota Banda Aceh.
Namun,
setelah saya bertemu dengan Direktur Unit Donor Darah dr. Ridwan Ibrahim, SpK,
disitu saya baru tahu bahwa ada satu kondisi dimana ada orang-orang yang
membutuhkan darah rutin demi perpanjangan usia mereka. Mereka itu adalah pasien
penyandang Thalassemia.
Saya
pikir hal ini mudah dan sederhana , karena penderita thalassemia yang transfusi
ke Rumah Sakit Umum dr. Zainal Abidin pada April 2012 berkisar 97 orang.
Berarti donor rutin akan menyelesaikan masalah. Ternyata saya salah,
permasalahannya tidak sesederhana yang saya pikirkan. Kebutuhan darah bagi
penderita thalassemia sangat banyak, variatif tergantung dari tingkat keparahan
dan kadar hemoglobin (hb) dalam darah.
Berkenalan Dengan Thalassemia
Mulailah saya cari literature tentang penyakit thalassemia,
browsing internet, bertanya sama keluarga penderita atau diskusi dengan dr.
Heru Noviat Herdata, SpA, beliau seorang dokter anak sekaligus Konsultan Hemato
dan Onkologi Anak. Dan katanya, Thalassemia adalah penyakit dimana sel
darah merah cepat rusak dan ditandai dengan anemia akut, kerusakan sel darah
merah pada orang normal 120 hari sedangkan pada penderita
thalassemia kurang dari itu bahkan ada yang hanya 2 minggu, penyakit yang
belum ditemukan obatnya ini harus rutin transfusi untuk mempertahankan
kadar hemoglobin dalam darahnya.
Faktanya adalah tahun 2010 Aceh sebagai salah satu dengan
suspect thalassemia tertinggi di Indonesia dengan prosentasi 13,8% . Fakta lain
yang saya temui adalah ternyata mencari pendonor tidak semudah yang saya
bayangkan, ditengah informasi yang minim dan belum ditemukan obat yang bisa
menyembuhkan penyakit ini, karena seperti umumnya penyakit keturunan lainnya.
Saya berpikir keras untuk mencari solusi agar pendonor bersedia untuk mendonor
bagi penderita thalassemia secara rutin, lahirlah program orangtua/kakak asuh
darah dengan nama program ten for one thalassemia yang akhirnya dikenal dengan
10 for 1 thalassemia atau dengan hashtag #10for1thalassemia yaitu 10 pendonor
(blooders) untuk mendampingi 1 penderita thalassemia (thaller), dengan program
10 for 1 thalassemia ternyata sedikit memberi solusi dengan cara
mendonorkan darah 3 bulan sekali per orang, kebutuhan darah thaller maksimal 3
kantong per anak perbulan. Tanpa saya sadari program ini sudah berlangsung 2
tahun, pada tahun 2014 ini thallers sudah berjumlah > 250 penderita yang
transfusi di RSUZA Banda Aceh, angka itu bertambah terus.
Saya dan teman-teman relawan yang memang awam tentang penyakit
ini hanya berusaha mencari pendonor lewat program #10for1thalassemia dengan
maksud meringankan beban orangtua yang selalu mengeluh tentang susahnya
mendapatkan darah yang berkualitas. Program ini disosialisasikan
diberbagai kesempatan baik melalui media cetak dan elektronik maupun lewat
media sosial (Twitter dan Facebook) dan mendapatkan respon positif dari
masyarakat. Secara berkala, para pendonor tetap (blooders) memenuhi permintaan
darah tiap kali akun @DarahUntukAceh posting kebutuhan darah bagi thallers
(penderita thalassemia) yang akan melakukan tranfusi setiap bulan. Sehingga sangat identik kalau Darah Untuk Aceh itu adalah cerita tentang thalassemia, begitu juga sebaliknya.
Penyakit thalassemia hanya bisa dicegah dengan tidak
mempertemukan carrier (pembawa sifat) dengan carrier dalam ikatan perkawinan,
Dan Indonesia sendiri berada pada sabuk thalassemia dunia dimana 6 – 10 dari
100 kelahiran adalah pembawa sifat thalassemia. Hal ini bisa kita cegah kalau
kita bersama-sama dengan peran masing-masing berkontribusi. Untuk itu kami membuat
program yang mudah dipahami oleh anak-anak muda, yaitu : Beware of thalassemia before you “PING” someone.
Untuk berbagai kesempatan, saya selalu berterimakasih kepada
relawan, tim, blooders (pendonor) atas bantuannya dan mau berbagi untuk
“Sahabat” kita thalassemia yang semula tidak saling kenal menjadi seperti
keluarga, semoga Allah yang akan membalasnya.
![]() |
| Dalam rangka Hari Thalassemia Sedunia, 08 Mei 2014 bersama Lintas Komunitas di Banda Aceh |
.jpg)
.jpg)
No comments:
Post a Comment