10
tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa mengumpulkan lagi setiap cerita, bak
mencari puzzle yang hilang kadang ingatan itu timbul tenggelam.
27
Desember 2004
Sembari
mengantar beberapa korban luka dan patah, sebagian memang sudah saya pakein curu/gip (mengikatkan bagian patah dengan
menggunakan kayu), oiya...malam itu saya gak tidur, gempa yang terus menerus
dan Salsa yang sedikit rewel karena habis susunya.
Keluar
pagi itu dengan harapan dapat membeli beberapa keperluan terutama susu anak,
telur, mi instan dll....
Hanya
feeling yang membuat kami kembali ke Blang Bintang, pagi yang rame di bandar
udara dan saya memastikan ada pesawat turun hari ini, saya sebutkan nama
berulang kali untuk memastikan ada dalam penerbangan hari ini, Ya......ada, kata
petugas bagian informasi itu.
Lega...saya
menunggu.
Alhamdulillah
ya Allah, sedikit rasa sesak yang menghimpit dari kemarin hilang...
Sambil
menunggu bagasi. saya lihat para jurnalis hilir mudik sambil bawa kamera segede
gaban...saya membiarkannya, tapi tiba-tiba saya teringat...hanya mereka yang
bisa memberi tau apa yang saya lihat dari kemarin di sini, di Aceh. pasti
wartawan yang disini mungkin kena tsunami, mungkin lagi berduka karena
kehilangan...saya menggantung harapan sama orang-orang yang bawa camera besar
itu.
Saya
menghampiri orang yang bawa kamera besar itu, orangnya juga besar dan gondrong
yang akhirnya saya tau dia bernama Pipit, Saya menawarkan tumpangan biar mereka
bisa sampai ke kota dengan syarat mereka harus segera kirim apapun yang mereka
lihat nantinya. Kita deal dan saya persilahkan naik mobil.
Masya
Allah……ternyata mereka rame dan barang banyak. Tapi gak punya pilihan mereka
harus bersedia desak-desakan
Di
bundaran Lambaro kami berhenti, kantong berwarna orange berjejer beberapa baris, saya mempersilahkan mereka
mengambil gambar atau melakukan sesuatu…mereka hanya bengong saja.
Bea
photographer dari Reuters tidak melakukan apapun, dia menepuk pipinya seakan
meyakinkan yang dia lihat itu nyata, saya memperhatikannya.
Saya
lihat kawan-kawan dari Pikiran Rakyat Bandung muntah-muntah, gak ada yang
mereka lakukan. Mas Bea Wiharta akhirnya mengajak kami untuk pergi dari tempat itu, saya langsung
protes…bagaimana dengan janji tadi?
Dengan
perasaan sedikit kecewa saya mencoba memahami penjelasan dari Mas Bea, kami
menuju Lamlagang untuk pulang ke rumah.
Saya menjemput Salsa dan Ti Yam di rumah
saudara, Salsa masih gak mau minum susu kental manis yang saya bawa dan saya
janji kalau nanti dia akan minum susunya.
Menjelang jam 11 kami kembali keliling kota menggunakan
2 mobil, 3 Reuters, 2 PR dan 1 dari TV 7…pom bensin tidak ada yang buka,
untungnya semua mobil full tank. Sampai di Lambaro tim berhenti agak lama
sepertinya kawan2 jurnalis sudah mulai melaksanakan tugasnya, jepret sana
jepret sini dan kami menuju ke Balng Bintang lagi karena disana ruang terbuka.
Kemungkinan signal bagus kata Pipit dan kita bisa kirim gambar segera.
Pertama
sekali aku melihat alat komunikasi canggih, menggunakam satelit..mereka dengan mudah menelephon ke Jakarta. Bea sibuk mengirim gambar dan Pipit mengirim
videonya sedangkan Tomi melaporkan langsung yang dia lihat melalui handphone
satellite itu, saya menunggu dalam panas terik dengar sabarnya, tak henti
bersyukur… Alhamdulillah ….pasti sebentar lagi dunia tau yang terjadi disini,
mereka akan membantu Aceh, mereka gak akan membiarkan kami dengan kehancuran
ini.
Kawan-kawan
dari Pikiran Rakyat Bandung, mereka harus ke Medan untuk bisa mengirimkan
berita mereka tidak membawa peralatan apapun, sehingga harus mengirim secara
manual, berhubung jaringan internet tidak ada di Banda Aceh akhirnya mereka
memutuskan untuk terbang. Lala, Rizwan dan Zaky Yamani.
Tomi
memanggil saya sambil memberikan satphon, “ telephon kak, ke siapa aja,
khabarin keadaan kakak dan keluarga” sejenak saya bingung gak tau harus
menelephon siapa karena semua nomor ada di hp dan sekarang mati karena habis
batre.
Saya
coba dial nomor kantor Medan, nada sibuk…
Saya
telephon nomor Pak Marhendro, Regional Sales Manager tidak aktif.
Begitu
saya telephon Pak Yong Firnadi Usman, Sales Manager PT. Kalbe Farma tersambung…
Saya
menceritakan semua, Semua hilang…Pak Ijal lagi di Sabang, saya dengar Sabang
sudah tenggelam, Desi sudah gak ada, Vivi, Sukardi….saya sebutkan semua anak
buah saya…
Pak
Yong memotong “Nur, apa yang kamu rasakan”?
Tiba-tiba
saya merasakan lapar yang teramat sangat, saya belum makan dari pagi kemarin.
“Saya
lapar Pak” saya menangis, Pak Yong yang sedang memimpin rapat bersama dengan
direksi Kalbe Farma ikut menangis,
“Sabar
Nur, kami akan segera kirim bantuan, kamu sabar ya”
Kelegaan
yang kesekian kali saya rasakan, selesai semua tapi saya belum mendapatkan susu
untuk anak saya.
Jal,
dari TV7 mengatakan ada kawannya ikut numpang, saya persilahkan....…kawannya
bernama Chikrini.
Ada
Asahi Shimbun Jepang juga 2 orang, AP 1 orang dan kami berdesakan dalam mobil.
Hari
sudah sore ketika jenazah yang di Lambaro di bawa ke Jl. Blang Bintang untuk
dimakamkan, bersama-sama di kebun pisang, saya melihat prosesi pemakaman itu, mereka semua syahid, yang sekarang kita kenal dengan kuburan massal.
Menjelang
magrib kami kembali ke rumah di Lamlagang Ti Yam sudah masak nasi dengan lauk
mi instan dan telur dadar, saya ajak makan semua teman2 saya dengan catatan,
yang makan pake mi, jangan pake telur lagi.
Salsa
yang belum dapat susu sedikit terhibur dengan bika ambon yang tak bertuan, dan
baru beberapa waktu ini saya tau kalau bika ambon itu dari Chikrini, yang sudah
menjadi sahabat saya sekarang.
Belum
sempat tidur kami mendapat berita kalau Suzuya terbakar, pusat perbelanjaan di pasar Aceh itu ludes
dilahap api, teman2 jurnalis saya segera meliput kesana. Gempa susulan terus
saja bergoyang hampir 5 menit sekali.
Kami
tidur berhimpitan diruang tamu, ada Maria dan Fujitani San dari Asahi Shimbun
yang juga tidur dirumah. Reuters saya kasih 1 kamar karena barang mereka banyak
dan besar-besar. Pintu rumah jangankan dikunci di tutup juga enggak. Hanya
cahaya bulan yang menerangi tidur kami malam itu.
Hari
ke 3 tsunami, kami mulai kekurangan bahan makanan, tapi dipikiran saya adalah
susu anak yang tak kunjung di dapat, saya ingat kantor…ya Enseval Putra
Megatrading, merupakan distributor susu anak saya, saya berharap sekali kantor
itu jebol kayak toko-toko lainnya biar saya dapatkan susu…(jahat memang)
Pagi
itu saya jalan sama Mas Bea ke Peunayong, kami kunjungi boat besar yang
terdampar di depan hotel Medan, berdekatan dengan itu adalah kantor saya (Kalbe
farma berkantor di Enseval sebagai distributor). Kantor saya utuh karena
terhalang boat sedang yang terparkir manis di depan pintu kantor. Tidak ada
orang disana, saya coba cari setiap kaleng berwarna kuning (warna kaleng susu),
sambil menunggu Mas bea motret saya terus mencari, akhirnya saya dapatkan 1
kaleng susu sepertinya dari apotik Husada yang pas di sudut Jl. A. Yani itu.
Dengan kegirangan saya ucap syukur, Salsa dapatkan susunya….Alhamdulillah!!!
Duit
hari itu gak berharga, gak bisa saya belikan susu buat Salsa. Susu saya
dapatkan dari mengais. Kaleng susu 200 gram saya bawa pulang ibarat bawa pulang
bongkahan emas, Salsa bisa minum susu
lebih penting saat itu.
(nak…..Ibu
menangis sambil menulis ini)
Saat
itu, suami saya mulai bercerita tentang pusat gempa, berulang kali menyebutkan
nama Calang sebagai pusat gempa dan saya gak ngeh, akhirnya kabar dari Lhokruet
saya terima, kalau kampong halaman saya luluh lantak.
Saya
mencoba mencari tau tentang keluarga saya, keluarga besar saya…tapi siapa yang
bisa memberi khabar, jalan putus komunikasi tidak ada.
Kalau
beberapa hari ini saya tegar dan selalu berusaha membantu orang lain, saya
terpuruk, sering menangis dan memohon pada Allah untuk menyelamatkan keluarga
saya.
Hari
ke 5 tsunami baru saya dapat khabar bahwa Ayahanda Muhammad Husin Bin Ahmad,
Abang Muhammad, Muhammad Jalil dan 2 orang kakak par dan keponakan adik/abang
sepupu dinyatakan hilang. Innalillahi WaiInna Ilaihi Raji’un….
Sedangkan
mamak dan keluarga yang selamat lainnya sudah dievakuasi ke Lamno.
Ya
Allah, ini kenyataan….aku sudah menyaksikan dari hari pertama apa yang terjadi
disini, mayat yang bergelimpangan dan puing2 reruntuhan, saya gak pernah
menduga bahwa ini juga menimpa keluarga saya, ayah….
Di
rumah kian rame orang, kami gak kekurangan lagi bahan makanan karena Reuters
mengirim makanan dengan pesawat. Krue Reuters dari belahan dunia lain juga
berdatangan, ada Bobby dari Philipina yang selalu bilang spicy setiap mau
makan, Ahmed dari Maroko yang tinggi besar, ada dari Italy yang saya lupa
namanya…
Ada
Pak Dean Yates yang selalu pake sarung kalau sudah sore, seorang Australi yang
bahasanya bagus sekali. Ada Darren Photografer dari Canada yang super cuek
tapi bisa becanda, dia juga pernah mengirimin saya 4 kotak besar pizza….
Akhirnya
saya mengenal orang2 Reuters di seluruh dunia, ada Pak Jerry juga…beliau sudah
berpulang beberapa waktu yang lalu, saya ikut berduka.
Selain
itu dirumah kami ada dari Pikiran Rakyat Bandung, Zaky dan Lala…
Saya
banyak belajar juga dari mereka, sering juga perkataan yang spontan dari kita
menjadi bahan buat mereka.
Saya
mulai sering keluar rumah, kantor sudah mengirim bantuan dan Enseval juga
membagikan susu untuk anak, saya dapat 8 kaleng susu 400 gram, Salsa sementara
tidak akan kekurangan susu lagi, hanya saja dia sekarang minum susu 2 x sehari,
biar gak habis katanya…
Salsa
tidak tau tentang kerusakan kota, hanya saja dia pernah kami bawa sekali
keluar, agak heran dia kenapa orang sekarang buang sampah sembarangan, kami
biarkan dia dengan pemikirannya, terlalu kecil saat itu untuk diberi pemahaman
dengan kesedihan dan kehilangan.
10
tahun sudah, malam ini….saya mencoba mengenang semuanya, berdoa untuk
semuanya….
Yang
hilang memang tidak terganti, tapi saya dipertemukan dengan sahabat2 baru untuk
saling menguatkan dan mengingatkan, betapa dekatnya kita dengan kematian dan
kehilangan.
*** 25122014***
No comments:
Post a Comment