Thursday, 25 December 2014

10 tahun yang lalu (part 2 - tamat)

10 tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa mengumpulkan lagi setiap cerita, bak mencari puzzle yang hilang kadang ingatan itu timbul tenggelam.

27 Desember 2004
Sembari mengantar beberapa korban luka dan patah, sebagian memang sudah saya pakein curu/gip  (mengikatkan bagian patah dengan menggunakan kayu), oiya...malam itu saya gak tidur, gempa yang terus menerus dan Salsa yang sedikit rewel karena habis susunya.
Keluar pagi itu dengan harapan dapat membeli beberapa keperluan terutama susu anak, telur, mi instan dll....
Hanya feeling yang membuat kami kembali ke Blang Bintang, pagi yang rame di bandar udara dan saya memastikan ada pesawat turun hari ini, saya sebutkan nama berulang kali untuk memastikan ada dalam penerbangan hari ini, Ya......ada, kata petugas bagian informasi itu.
Lega...saya menunggu.
Alhamdulillah ya Allah, sedikit rasa sesak yang menghimpit dari kemarin hilang...
Sambil menunggu bagasi. saya lihat para jurnalis hilir mudik sambil bawa kamera segede gaban...saya membiarkannya, tapi tiba-tiba saya teringat...hanya mereka yang bisa memberi tau apa yang saya lihat dari kemarin di sini, di Aceh. pasti wartawan yang disini mungkin kena tsunami, mungkin lagi berduka karena kehilangan...saya menggantung harapan sama orang-orang yang bawa camera besar itu.

Saya menghampiri orang yang bawa kamera besar itu, orangnya juga besar dan gondrong yang akhirnya saya tau dia bernama Pipit, Saya menawarkan tumpangan biar mereka bisa sampai ke kota dengan syarat mereka harus segera kirim apapun yang mereka lihat nantinya. Kita deal dan saya persilahkan naik mobil.
Masya Allah……ternyata mereka rame dan barang banyak. Tapi gak punya pilihan mereka harus bersedia desak-desakan

Di bundaran Lambaro kami berhenti, kantong berwarna orange berjejer  beberapa baris, saya mempersilahkan mereka mengambil gambar atau melakukan sesuatu…mereka hanya bengong saja.
Bea photographer dari Reuters tidak melakukan apapun, dia menepuk pipinya seakan meyakinkan yang dia lihat itu nyata, saya memperhatikannya.
Saya lihat kawan-kawan dari Pikiran Rakyat Bandung muntah-muntah, gak ada yang mereka lakukan. Mas Bea Wiharta akhirnya mengajak kami untuk  pergi dari tempat itu, saya langsung protes…bagaimana dengan janji tadi?
Dengan perasaan sedikit kecewa saya mencoba memahami penjelasan dari Mas Bea, kami menuju Lamlagang untuk pulang ke rumah.
 Saya menjemput Salsa dan Ti Yam di rumah saudara, Salsa masih gak mau minum susu kental manis yang saya bawa dan saya janji kalau nanti dia akan minum susunya.

Menjelang  jam 11 kami kembali keliling kota menggunakan 2 mobil, 3 Reuters, 2 PR dan 1 dari TV 7…pom bensin tidak ada yang buka, untungnya semua mobil full tank. Sampai di Lambaro tim berhenti agak lama sepertinya kawan2 jurnalis sudah mulai melaksanakan tugasnya, jepret sana jepret sini dan kami menuju ke Balng Bintang lagi karena disana ruang terbuka. Kemungkinan signal bagus kata Pipit dan kita bisa kirim gambar segera.
Pertama sekali aku melihat alat komunikasi canggih, menggunakam satelit..mereka dengan mudah menelephon ke Jakarta. Bea sibuk mengirim gambar dan Pipit mengirim videonya sedangkan Tomi melaporkan langsung yang dia lihat melalui handphone satellite itu, saya menunggu dalam panas terik dengar sabarnya, tak henti bersyukur… Alhamdulillah ….pasti sebentar lagi dunia tau yang terjadi disini, mereka akan membantu Aceh, mereka gak akan membiarkan kami dengan kehancuran ini.

Kawan-kawan dari Pikiran Rakyat Bandung, mereka harus ke Medan untuk bisa mengirimkan berita mereka tidak membawa peralatan apapun, sehingga harus mengirim secara manual, berhubung jaringan internet tidak ada di Banda Aceh akhirnya mereka memutuskan untuk terbang. Lala, Rizwan dan Zaky Yamani.

Tomi memanggil saya sambil memberikan satphon, “ telephon kak, ke siapa aja, khabarin keadaan kakak dan keluarga” sejenak saya bingung gak tau harus menelephon siapa karena semua nomor ada di hp dan sekarang mati karena habis batre.
Saya coba dial nomor kantor Medan, nada sibuk…
Saya telephon nomor Pak Marhendro, Regional Sales Manager tidak aktif.
Begitu saya telephon Pak Yong Firnadi Usman, Sales Manager PT. Kalbe Farma tersambung…
Saya menceritakan semua, Semua hilang…Pak Ijal lagi di Sabang, saya dengar Sabang sudah tenggelam, Desi sudah gak ada, Vivi, Sukardi….saya sebutkan semua anak buah saya…

Pak Yong memotong “Nur, apa yang kamu rasakan”?
Tiba-tiba saya merasakan lapar yang teramat sangat, saya belum makan dari pagi kemarin.
“Saya lapar Pak” saya menangis, Pak Yong yang sedang memimpin rapat bersama dengan direksi Kalbe Farma ikut menangis,
“Sabar Nur, kami akan segera kirim bantuan, kamu sabar ya”

Kelegaan yang kesekian kali saya rasakan, selesai semua tapi saya belum mendapatkan susu untuk anak saya.
Jal, dari TV7 mengatakan ada kawannya ikut numpang, saya persilahkan....…kawannya bernama Chikrini.
Ada Asahi Shimbun Jepang juga 2 orang, AP 1 orang dan kami berdesakan dalam mobil.
Hari sudah sore ketika jenazah yang di Lambaro di bawa ke Jl. Blang Bintang untuk dimakamkan, bersama-sama di kebun pisang, saya melihat prosesi pemakaman  itu, mereka semua syahid,  yang sekarang kita kenal dengan kuburan massal.
Menjelang magrib kami kembali ke rumah di Lamlagang Ti Yam sudah masak nasi dengan lauk mi instan dan telur dadar, saya ajak makan semua teman2 saya dengan catatan, yang makan pake mi, jangan pake telur lagi.
Salsa yang belum dapat susu sedikit terhibur dengan bika ambon yang tak bertuan, dan baru beberapa waktu ini saya tau kalau bika ambon itu dari Chikrini, yang sudah menjadi sahabat saya sekarang.
Belum sempat tidur kami mendapat berita kalau Suzuya terbakar,  pusat perbelanjaan di pasar Aceh itu ludes dilahap api, teman2 jurnalis saya segera meliput kesana. Gempa susulan terus saja bergoyang hampir 5 menit sekali.

Kami tidur berhimpitan diruang tamu, ada Maria dan Fujitani San dari Asahi Shimbun yang juga tidur dirumah. Reuters saya kasih 1 kamar karena barang mereka banyak dan besar-besar. Pintu rumah jangankan dikunci di tutup juga enggak. Hanya cahaya bulan yang menerangi tidur kami malam itu.

Hari ke 3 tsunami, kami mulai kekurangan bahan makanan, tapi dipikiran saya adalah susu anak yang tak kunjung di dapat, saya ingat kantor…ya Enseval Putra Megatrading, merupakan distributor susu anak saya, saya berharap sekali kantor itu jebol kayak toko-toko lainnya biar saya dapatkan susu…(jahat memang)
Pagi itu saya jalan sama Mas Bea ke Peunayong, kami kunjungi boat besar yang terdampar di depan hotel Medan, berdekatan dengan itu adalah kantor saya (Kalbe farma berkantor di Enseval sebagai distributor). Kantor saya utuh karena terhalang boat sedang yang terparkir manis di depan pintu kantor. Tidak ada orang disana, saya coba cari setiap kaleng berwarna kuning (warna kaleng susu), sambil menunggu Mas bea motret saya terus mencari, akhirnya saya dapatkan 1 kaleng susu sepertinya dari apotik Husada yang pas di sudut Jl. A. Yani itu. Dengan kegirangan saya ucap syukur, Salsa dapatkan susunya….Alhamdulillah!!!
Duit hari itu gak berharga, gak bisa saya belikan susu buat Salsa. Susu saya dapatkan dari mengais. Kaleng susu 200 gram saya bawa pulang ibarat bawa pulang bongkahan emas, Salsa bisa minum susu  lebih penting saat itu.
(nak…..Ibu menangis sambil menulis ini)

Saat itu, suami saya mulai bercerita tentang pusat gempa, berulang kali menyebutkan nama Calang sebagai pusat gempa dan saya gak ngeh, akhirnya kabar dari Lhokruet saya terima, kalau kampong halaman saya luluh lantak.
Saya mencoba mencari tau tentang keluarga saya, keluarga besar saya…tapi siapa yang bisa memberi khabar, jalan putus komunikasi tidak ada.
Kalau beberapa hari ini saya tegar dan selalu berusaha membantu orang lain, saya terpuruk, sering menangis dan memohon pada Allah untuk menyelamatkan keluarga saya.

Hari ke 5 tsunami baru saya dapat khabar bahwa Ayahanda Muhammad Husin Bin Ahmad, Abang Muhammad, Muhammad Jalil dan 2 orang kakak par dan keponakan adik/abang sepupu dinyatakan hilang. Innalillahi WaiInna Ilaihi Raji’un….
Sedangkan mamak dan keluarga yang selamat lainnya sudah dievakuasi ke Lamno.

Ya Allah, ini kenyataan….aku sudah menyaksikan dari hari pertama apa yang terjadi disini, mayat yang bergelimpangan dan puing2 reruntuhan, saya gak pernah menduga bahwa ini juga menimpa keluarga saya, ayah….
Di rumah kian rame orang, kami gak kekurangan lagi bahan makanan karena Reuters mengirim makanan dengan pesawat. Krue Reuters dari belahan dunia lain juga berdatangan, ada Bobby dari Philipina yang selalu bilang spicy setiap mau makan, Ahmed dari Maroko yang tinggi besar, ada dari Italy yang saya lupa namanya…
Ada Pak Dean Yates yang selalu pake sarung kalau sudah sore, seorang Australi yang bahasanya bagus sekali. Ada Darren Photografer dari Canada yang super cuek tapi bisa becanda, dia juga pernah mengirimin saya 4 kotak besar pizza….
Akhirnya saya mengenal orang2 Reuters di seluruh dunia, ada Pak Jerry juga…beliau sudah berpulang beberapa waktu yang lalu, saya ikut berduka.
Selain itu dirumah kami ada dari Pikiran Rakyat Bandung, Zaky dan Lala…
Saya banyak belajar juga dari mereka, sering juga perkataan yang spontan dari kita menjadi bahan buat mereka.

Saya mulai sering keluar rumah, kantor sudah mengirim bantuan dan Enseval juga membagikan susu untuk anak, saya dapat 8 kaleng susu 400 gram, Salsa sementara tidak akan kekurangan susu lagi, hanya saja dia sekarang minum susu 2 x sehari, biar gak habis katanya…

Salsa tidak tau tentang kerusakan kota, hanya saja dia pernah kami bawa sekali keluar, agak heran dia kenapa orang sekarang buang sampah sembarangan, kami biarkan dia dengan pemikirannya, terlalu kecil saat itu untuk diberi pemahaman dengan kesedihan dan kehilangan.

10 tahun sudah, malam ini….saya mencoba mengenang semuanya, berdoa untuk semuanya….

Yang hilang memang tidak terganti, tapi saya dipertemukan dengan sahabat2 baru untuk saling menguatkan dan mengingatkan, betapa dekatnya kita dengan kematian dan kehilangan.

*** 25122014***

No comments:

Post a Comment