Oleh: ADRIAN FAJRIANSYAH
NURJANAH HUSEIN (44) tidak malu menemui kerumunan orang di warung kopi guna sosialisasi soal talasemia, penyakit kelainan darah turunan yang ditandai adanya sel darah merah yang abnormal. Ia tak segan berperan layaknya tukang kredit menawarkan barang, mengajak orang-orang menjadi pendonor darah bagi penderita talasemia.
Ia mengoptimalkan latar belakang pendidikan ilmu ekonomi dan pengalaman sebagai manajer pemasaran untuk merayu orang-orang beramal bagi penderita talasemia.
Totalitas Nurjanah menjadi pencari darah untuk penderita talasemia bermula dari sakit iskemik yang diderita almarhumah ibunya, Zainab Saleh, pada 2011. Zainab harus transfusi darah sebanyak 10 kantong ketika dirawat selama 2 bulan di rumah sakit.
Ketika itu, Nurjanah begitu mudah mendapatkan darah untuk ibunya dalam satu hari. Bahkan, ia mendapatkan darah berlebih, bisa 30 kantong sehingga sisanya disumbangkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh.
”Saya beruntung punya banyak kawan baik yang bersedia cepat membantu,” ujar perempuan yang sering disapa Nunu.
Namun, ada temannya yang mengatakan, masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan darah sekalipun sudah ke PMI.
Hal itu menggugah hati Nunu. Melalui Yayasan Bumiku Hijau, yayasan lingkungan miliknya yang didirikan pada 24 April 2009, ia mengadakan donor darah massal pada hari jadi yayasan tersebut. Ternyata, banyak orang antusias mendonorkan darah, dan banyak orang butuh darah itu.
Dari situ, Nunu berpikir untuk mengadakan aksi donor darah yang lebih berkelanjutkan. Akhirnya, ia bersama teman-temannya berinisiatif membuat komunitas bernama Darah Untuk Aceh (DUA) pada 24 April 2012.
Komunitas ini bertujuan mencari pendonor darah, memfasilitasi orang yang ingin mendonorkan darah, dan mendistribusikan darah itu untuk orang yang memerlukan. Hal itu dilakukan bekerja sama dengan PMI Banda Aceh. DUA melakukan itu secara sukarela atau tanpa imbalan sepeser pun.
”Komunitas ini pun saya dedikasikan untuk almarhumah ibu saya yang telah memberikan banyak inspirasi, yakni walaupun hidup sederhana dan terbatas, sebisa mungkin tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” ucap perempuan pemilik rekor 100 kali menyelam ini.
Berkenalan dengan talasemia
Awalnya, DUA hanya diproyeksikan mencari darah dan membantu memenuhi kebutuhan darah di Unit Donor Darah PMI Banda Aceh. Pada perkembangannya, Direktur Unit Donor Darah PMI Kota Banda Aceh, saat itu Ridwan Ibrahim, mengarahkan DUA fokus mencari pendonor darah tetap untuk pasien talasemia.
Nunu mengaku antusias menerima arahan itu. Padahal, ia belum tahu tentang talasemia ketika itu. Namun, karena berniat membantu, Nunu berupaya mengetahui dan memahami talasemia. Ia mencari referensi mengenai talasemia dari internet. Ia pun langsung datang ke Instalasi Sentra Talasemia Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, satu-satunya rumah sakit yang melayani pengobatan penyakit itu di Aceh. Ia tak segan berdiskusi dengan dokter ataupun keluarga penderita talasemia untuk mengetahui dan memahami talasemia.
Dari situ, Nunu tahu, talasemia adalah penyakit kelainan darah genetik yang tidak bisa disembuhkan. Tubuh penderitanya tidak bisa mempertahankan hemoglobin (Hb) dalam darahnya secara normal. Orang normal memproduksi Hb yang bisa bertahan selama 120 hari, sedangkan orang talasemia memproduksi Hb yang hanya bertahan sekitar 30 hari.
Umumnya, orang talasemia memiliki Hb di bawah batas normal, yakni kurang dari 12,5. Padahal, Hb adalah pembawa asupan oksigen dan sari pati makanan ke seluruh tubuh melalui jaringan pembuluh darah. Akibatnya, orang talasemia cenderung mengalami gangguan tumbuh dan kembang, yakni tubuh kerdil dan kemampuan berpikir di bawah rata-rata.
Orang talasemia harus rutin mendapatkan transfusi darah 1-3 bulan sekali. Orang talasemia yang rutin transfusi darah memiliki peluang hidup rata-rata sekitar 20 tahun, sedangkan yang tidak rutin peluang hidupnya rata-rata 8-10 tahun.
Hati Nunu kian tersentuh seiring kian paham dengan fakta-fakta talasemia itu. Apalagi, talasemia belum ada obatnya hingga sekarang. ”Mulai dari situ saya tetapkan hati ingin memfokuskan DUA membantu para penderita talasemia,” tuturnya mengenang.
Pendonor baru
Menurut Nunu, talasemia menjadi fenomena gunung es di Aceh. Angka kejadian talasemia baru mencapai 50 orang per tahun di Aceh. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2010, Aceh tercatat sebagai provinsi dengan persentase talasemia tertinggi di Indonesia, yakni 13,8 persen.
”Jumlah penderita talasemia sekitar 250 orang yang terdata melakukan pengobatan rutin di RSUDZA Banda Aceh,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banda Aceh 1992 ini.
Pertambahan jumlah kejadian talasemia itu tidak sebanding dengan ketersediaan darahnya. Merujuk data PMI Banda Aceh, kebutuhan akan darah harian mencapai 100 kantong per hari di Banda Aceh, termasuk untuk memenuhi kebutuhan penderita talasemia. Namun, ketersediaan darah yang didapat dari pendonor tetap hanya 60 kantong per hari. ”Sisanya keluarga pasien harus berusaha mencari pendonor pengganti,” ucapnya.
Atas dasar itu Nunu, melalui DUA, berupaya mencari pendonor darah tetap yang baru bagi penderita talasemia. Untuk menunjang itu, ia pun membuat program ten for one thalassemia (sepuluh untuk satu talasemia) pada 24 Juni 2012.
Melalui program itu, DUA mencari 10 pendonor tetap baru untuk mendampingi 1 penderita talasemia. Pendonor baru itu dicari dari orang yang belum pernah menjadi pendonor ataupun di luar data PMI Banda Aceh.
”Sepuluh pendonor baru itu dibagi tiga kelompok dan dihubungi setiap tiga bulan sekali untuk melakukan donor rutin bagi penderita talasemia,” katanya.
Nunu menyampaikan bahwa cara ini ampuh untuk menyediakan darah bagi penderita talasemia secara berkelanjutan 1-3 bulan sekali. Selain itu, cara ini memungkinkan penderita talasemia mendapatkan darah yang sama setiap bulan sehingga tubuhnya mudah beradaptasi.
Mantan manajer pemasaran salah satu perusahaan farmasi swasta nasional ini gencar menyosialisasikan talasemia. Salah satunya lewat Twitter @DarahUntukAceh. Ia pun melakukan sesuatu yang unik ketika bersosialisai, seperti memberi istilah blooders untuk pendonor darah dan thallers untuk penderita talasemia.
Sedikit demi sedikit upaya Nunu membuahkan hasil. Jumlah pendonor tetap di DUA terus bertambah dari tahun ke tahun, yakni dari 50 orang pada 2012 menjadi 1.000 orang pada 2014. Pendonor tetap tersebut sebagian besar atau lebih dari 50 persen berasal dari kalangan mahasiswa.
Kegiatan yang dilakukan DUA pun mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak, seperti Pendiri Komunitas Menata Keluarga (Emka Land), Melly Kiong. Bahkan, untuk mendukung kegiatan DUA, Melly memberikan sumbangan melalui komunitasnya sebesar Rp 30 juta.
”Upaya DUA mengingatkan masyarakat untuk menghindari pernikahan sesama pembawa gen talasemia adalah salah satu bagian dari menata keluarga Indonesia menjadi lebih baik,” ucap Melly.
Karena kerja-kerjanya, Nunu pernah menjadi finalis Kartini Next Generation Award 2014 oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Adapun DUA turut menginspirasi berdirinya Darah Untuk Yogyakarta pada 2012, Darah Untuk Lampung pada 2012, dan Darah Untuk Sumsel (Sumatera Selatan) pada 2013.
—————————————————————————
NURJANAH HUSIEN
♦ Panggilan: Nunu
♦ Tempat tanggal lahir: Lhok Kruet, Aceh Jaya, 24 April 1970
♦ Golongan darah: B+
♦ Pendidikan:
- SD Negeri Lhok Kruet 1976-1982
- SMP Negeri Lhok Kruet 1982-1985
- SMA Negeri Lamno 1985-1988
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banda Aceh 1988-1992
♦ Keorganisasian:
- Pendiri Yayasan Bumiku Hijau 2009 hingga sekarang
- Pendiri Darah Untuk Aceh 2012 hingga sekarang
- Sukarelawan Earth Hour Indonesia 2012 hingga sekarang
******
sources:
http://health.kompas.com/read/2015/01/28/150500823/Pencari.Darah.untuk.Talasemia
Another Life Journey
Sunday, 1 February 2015
Wednesday, 31 December 2014
Ingin Menjadi Sekeping...........
Tak banyak yang bisa ku tulis untuk mengawali tahun ini, tidak ada resolusi khusus yang bisa kurangkum, aku hanya ingin berguna untuk setiap tarikan nafas, aku hanya ingin bermanfaat untuk setiap kehidupan.
Tidak ada success story yang harus dibanggakan, semua pencapaian karena kontribusi semua orang, aku hanya bagian kecilnya saja. hanya itu.
Tiba2 aku teringat sama puisinya LK Ara "Ingin menjadi Sekeping"
ya....aku hanya ingin menjadi sekeping yang berguna
INGIN MENJADI SEKEPING
Ia hanya sekeping
Pada sebuah kapal besar
Yang sedang berlayar
Tapi ia ingin
Jadi sekeping yang berdaya
Betapapun jauh
Perjalanan yang ditempuh
Sungguh ia ingin
Jadi sekeping yang berguna
Betapun buruk nakhoda
Yang menjadi kemudinya
Ia hanya sekeping
Terletak di bagian dasar kapal
Dari atas diinjak
Dibebani pula
Dari bawah
Harus tabah melawan
Derasnya ombak
Tapi ia ingin
Jadi sekeping yang berharga
Betapapun buruk nakhoda
Mempermainkannya
Ia ingin sekeping
Seperti yang dia ingin
Menempuh perjalanan rindu
Untuk bertemu dengan Mu
------------------------------
nuu husien, 1115
Saturday, 27 December 2014
Thalassemia's Story
Ekses Pengangguran
Tidak
banyak yang bisa saya share tentang kegiatan yang saya geluti
sekarang, belum pantas saya disebut sebagai seorang aktifis karena apa yang
saya lakukan bersama teman-teman di Komunitas Darah Untuk Aceh hanya sebatas
berkontribusi dengan apa yang saya lihat bertolak belakang dengan
apa yang saya alami.
Bermula
ketika almarhumah Ibu saya dirawat sampai 2 bulan di rumah sakit, penyakit tua
nya mengharuskan transfusi darah sampai dengan 10 kantong dan saya begitu mudah
mendapatkannya, karena saya mempunyai banyak kawan dan semuanya bersedia
membantu, bahkan lebih dari kebutuhan.
Setahun
setelah “kepergian” Ibu saya juga resign dari seorang profesional sebagai
District Manager di sebuah perusahaan swasta nasional, minggu pertama masih happy
dan tanpa kendala, saya terbebas dari rutinitas yang “membosankan” tetapi
ternyata itu awal dari masalah, karena saya yang biasanya produktif
dan kreatif harus diam dirumah, terus terlintas dibenak saya “kalau begini
terus saya bisa mati, saya tidak mau mati (tidak produktif) karena saya tidak
bekerja secara professional, pasti ada cara yang lain.”
Tanpa
saya sadari sudah 2 bulan sebagai “pengangguran” April datang, saya teringat
tentang yayasan lingkungan yang saya punya Yayasan Bumiku Hijau (YABUMI) yang
kami dirikan pada tanggal 24 April 2009, saya rencanakan untuk donor darah
massal, tapi saya juga tidak ingin seperti yang lain, donor darah massal hanya
pada momen ulang tahun atau event-event tertentu saja, sementara saya ingin ini
berkelanjutan. Tapi bagaimana caranya?
Darah Untuk Aceh
Akhirnya ajak
teman-teman untuk bersama-sama buat suatu komunitas yang saya beri nama “Darah
Untuk Aceh”, komunitas yang saya dedikasikan untuk almarhumah Ibu saya dalam kesederhanaannya
tapi bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan
semangat membagi kemudahan akhirnya terbentuk Darah Untuk Aceh bekerjasama
dengan PMI Kota Banda Aceh. Awalnya komunitas ini akan bergerak untuk
menggalang donor darah untuk memenuhi kebutuhan darah di Unit Donor Darah PMI
Kota Banda Aceh.
Namun,
setelah saya bertemu dengan Direktur Unit Donor Darah dr. Ridwan Ibrahim, SpK,
disitu saya baru tahu bahwa ada satu kondisi dimana ada orang-orang yang
membutuhkan darah rutin demi perpanjangan usia mereka. Mereka itu adalah pasien
penyandang Thalassemia.
Saya
pikir hal ini mudah dan sederhana , karena penderita thalassemia yang transfusi
ke Rumah Sakit Umum dr. Zainal Abidin pada April 2012 berkisar 97 orang.
Berarti donor rutin akan menyelesaikan masalah. Ternyata saya salah,
permasalahannya tidak sesederhana yang saya pikirkan. Kebutuhan darah bagi
penderita thalassemia sangat banyak, variatif tergantung dari tingkat keparahan
dan kadar hemoglobin (hb) dalam darah.
Berkenalan Dengan Thalassemia
Mulailah saya cari literature tentang penyakit thalassemia,
browsing internet, bertanya sama keluarga penderita atau diskusi dengan dr.
Heru Noviat Herdata, SpA, beliau seorang dokter anak sekaligus Konsultan Hemato
dan Onkologi Anak. Dan katanya, Thalassemia adalah penyakit dimana sel
darah merah cepat rusak dan ditandai dengan anemia akut, kerusakan sel darah
merah pada orang normal 120 hari sedangkan pada penderita
thalassemia kurang dari itu bahkan ada yang hanya 2 minggu, penyakit yang
belum ditemukan obatnya ini harus rutin transfusi untuk mempertahankan
kadar hemoglobin dalam darahnya.
Faktanya adalah tahun 2010 Aceh sebagai salah satu dengan
suspect thalassemia tertinggi di Indonesia dengan prosentasi 13,8% . Fakta lain
yang saya temui adalah ternyata mencari pendonor tidak semudah yang saya
bayangkan, ditengah informasi yang minim dan belum ditemukan obat yang bisa
menyembuhkan penyakit ini, karena seperti umumnya penyakit keturunan lainnya.
Saya berpikir keras untuk mencari solusi agar pendonor bersedia untuk mendonor
bagi penderita thalassemia secara rutin, lahirlah program orangtua/kakak asuh
darah dengan nama program ten for one thalassemia yang akhirnya dikenal dengan
10 for 1 thalassemia atau dengan hashtag #10for1thalassemia yaitu 10 pendonor
(blooders) untuk mendampingi 1 penderita thalassemia (thaller), dengan program
10 for 1 thalassemia ternyata sedikit memberi solusi dengan cara
mendonorkan darah 3 bulan sekali per orang, kebutuhan darah thaller maksimal 3
kantong per anak perbulan. Tanpa saya sadari program ini sudah berlangsung 2
tahun, pada tahun 2014 ini thallers sudah berjumlah > 250 penderita yang
transfusi di RSUZA Banda Aceh, angka itu bertambah terus.
Saya dan teman-teman relawan yang memang awam tentang penyakit
ini hanya berusaha mencari pendonor lewat program #10for1thalassemia dengan
maksud meringankan beban orangtua yang selalu mengeluh tentang susahnya
mendapatkan darah yang berkualitas. Program ini disosialisasikan
diberbagai kesempatan baik melalui media cetak dan elektronik maupun lewat
media sosial (Twitter dan Facebook) dan mendapatkan respon positif dari
masyarakat. Secara berkala, para pendonor tetap (blooders) memenuhi permintaan
darah tiap kali akun @DarahUntukAceh posting kebutuhan darah bagi thallers
(penderita thalassemia) yang akan melakukan tranfusi setiap bulan. Sehingga sangat identik kalau Darah Untuk Aceh itu adalah cerita tentang thalassemia, begitu juga sebaliknya.
Penyakit thalassemia hanya bisa dicegah dengan tidak
mempertemukan carrier (pembawa sifat) dengan carrier dalam ikatan perkawinan,
Dan Indonesia sendiri berada pada sabuk thalassemia dunia dimana 6 – 10 dari
100 kelahiran adalah pembawa sifat thalassemia. Hal ini bisa kita cegah kalau
kita bersama-sama dengan peran masing-masing berkontribusi. Untuk itu kami membuat
program yang mudah dipahami oleh anak-anak muda, yaitu : Beware of thalassemia before you “PING” someone.
Untuk berbagai kesempatan, saya selalu berterimakasih kepada
relawan, tim, blooders (pendonor) atas bantuannya dan mau berbagi untuk
“Sahabat” kita thalassemia yang semula tidak saling kenal menjadi seperti
keluarga, semoga Allah yang akan membalasnya.
![]() |
| Dalam rangka Hari Thalassemia Sedunia, 08 Mei 2014 bersama Lintas Komunitas di Banda Aceh |
Thursday, 25 December 2014
10 tahun yang lalu (part 2 - tamat)
10
tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa mengumpulkan lagi setiap cerita, bak
mencari puzzle yang hilang kadang ingatan itu timbul tenggelam.
27
Desember 2004
Sembari
mengantar beberapa korban luka dan patah, sebagian memang sudah saya pakein curu/gip (mengikatkan bagian patah dengan
menggunakan kayu), oiya...malam itu saya gak tidur, gempa yang terus menerus
dan Salsa yang sedikit rewel karena habis susunya.
Keluar
pagi itu dengan harapan dapat membeli beberapa keperluan terutama susu anak,
telur, mi instan dll....
Hanya
feeling yang membuat kami kembali ke Blang Bintang, pagi yang rame di bandar
udara dan saya memastikan ada pesawat turun hari ini, saya sebutkan nama
berulang kali untuk memastikan ada dalam penerbangan hari ini, Ya......ada, kata
petugas bagian informasi itu.
Lega...saya
menunggu.
Alhamdulillah
ya Allah, sedikit rasa sesak yang menghimpit dari kemarin hilang...
Sambil
menunggu bagasi. saya lihat para jurnalis hilir mudik sambil bawa kamera segede
gaban...saya membiarkannya, tapi tiba-tiba saya teringat...hanya mereka yang
bisa memberi tau apa yang saya lihat dari kemarin di sini, di Aceh. pasti
wartawan yang disini mungkin kena tsunami, mungkin lagi berduka karena
kehilangan...saya menggantung harapan sama orang-orang yang bawa camera besar
itu.
Saya
menghampiri orang yang bawa kamera besar itu, orangnya juga besar dan gondrong
yang akhirnya saya tau dia bernama Pipit, Saya menawarkan tumpangan biar mereka
bisa sampai ke kota dengan syarat mereka harus segera kirim apapun yang mereka
lihat nantinya. Kita deal dan saya persilahkan naik mobil.
Masya
Allah……ternyata mereka rame dan barang banyak. Tapi gak punya pilihan mereka
harus bersedia desak-desakan
Di
bundaran Lambaro kami berhenti, kantong berwarna orange berjejer beberapa baris, saya mempersilahkan mereka
mengambil gambar atau melakukan sesuatu…mereka hanya bengong saja.
Bea
photographer dari Reuters tidak melakukan apapun, dia menepuk pipinya seakan
meyakinkan yang dia lihat itu nyata, saya memperhatikannya.
Saya
lihat kawan-kawan dari Pikiran Rakyat Bandung muntah-muntah, gak ada yang
mereka lakukan. Mas Bea Wiharta akhirnya mengajak kami untuk pergi dari tempat itu, saya langsung
protes…bagaimana dengan janji tadi?
Dengan
perasaan sedikit kecewa saya mencoba memahami penjelasan dari Mas Bea, kami
menuju Lamlagang untuk pulang ke rumah.
Saya menjemput Salsa dan Ti Yam di rumah
saudara, Salsa masih gak mau minum susu kental manis yang saya bawa dan saya
janji kalau nanti dia akan minum susunya.
Menjelang jam 11 kami kembali keliling kota menggunakan
2 mobil, 3 Reuters, 2 PR dan 1 dari TV 7…pom bensin tidak ada yang buka,
untungnya semua mobil full tank. Sampai di Lambaro tim berhenti agak lama
sepertinya kawan2 jurnalis sudah mulai melaksanakan tugasnya, jepret sana
jepret sini dan kami menuju ke Balng Bintang lagi karena disana ruang terbuka.
Kemungkinan signal bagus kata Pipit dan kita bisa kirim gambar segera.
Pertama
sekali aku melihat alat komunikasi canggih, menggunakam satelit..mereka dengan mudah menelephon ke Jakarta. Bea sibuk mengirim gambar dan Pipit mengirim
videonya sedangkan Tomi melaporkan langsung yang dia lihat melalui handphone
satellite itu, saya menunggu dalam panas terik dengar sabarnya, tak henti
bersyukur… Alhamdulillah ….pasti sebentar lagi dunia tau yang terjadi disini,
mereka akan membantu Aceh, mereka gak akan membiarkan kami dengan kehancuran
ini.
Kawan-kawan
dari Pikiran Rakyat Bandung, mereka harus ke Medan untuk bisa mengirimkan
berita mereka tidak membawa peralatan apapun, sehingga harus mengirim secara
manual, berhubung jaringan internet tidak ada di Banda Aceh akhirnya mereka
memutuskan untuk terbang. Lala, Rizwan dan Zaky Yamani.
Tomi
memanggil saya sambil memberikan satphon, “ telephon kak, ke siapa aja,
khabarin keadaan kakak dan keluarga” sejenak saya bingung gak tau harus
menelephon siapa karena semua nomor ada di hp dan sekarang mati karena habis
batre.
Saya
coba dial nomor kantor Medan, nada sibuk…
Saya
telephon nomor Pak Marhendro, Regional Sales Manager tidak aktif.
Begitu
saya telephon Pak Yong Firnadi Usman, Sales Manager PT. Kalbe Farma tersambung…
Saya
menceritakan semua, Semua hilang…Pak Ijal lagi di Sabang, saya dengar Sabang
sudah tenggelam, Desi sudah gak ada, Vivi, Sukardi….saya sebutkan semua anak
buah saya…
Pak
Yong memotong “Nur, apa yang kamu rasakan”?
Tiba-tiba
saya merasakan lapar yang teramat sangat, saya belum makan dari pagi kemarin.
“Saya
lapar Pak” saya menangis, Pak Yong yang sedang memimpin rapat bersama dengan
direksi Kalbe Farma ikut menangis,
“Sabar
Nur, kami akan segera kirim bantuan, kamu sabar ya”
Kelegaan
yang kesekian kali saya rasakan, selesai semua tapi saya belum mendapatkan susu
untuk anak saya.
Jal,
dari TV7 mengatakan ada kawannya ikut numpang, saya persilahkan....…kawannya
bernama Chikrini.
Ada
Asahi Shimbun Jepang juga 2 orang, AP 1 orang dan kami berdesakan dalam mobil.
Hari
sudah sore ketika jenazah yang di Lambaro di bawa ke Jl. Blang Bintang untuk
dimakamkan, bersama-sama di kebun pisang, saya melihat prosesi pemakaman itu, mereka semua syahid, yang sekarang kita kenal dengan kuburan massal.
Menjelang
magrib kami kembali ke rumah di Lamlagang Ti Yam sudah masak nasi dengan lauk
mi instan dan telur dadar, saya ajak makan semua teman2 saya dengan catatan,
yang makan pake mi, jangan pake telur lagi.
Salsa
yang belum dapat susu sedikit terhibur dengan bika ambon yang tak bertuan, dan
baru beberapa waktu ini saya tau kalau bika ambon itu dari Chikrini, yang sudah
menjadi sahabat saya sekarang.
Belum
sempat tidur kami mendapat berita kalau Suzuya terbakar, pusat perbelanjaan di pasar Aceh itu ludes
dilahap api, teman2 jurnalis saya segera meliput kesana. Gempa susulan terus
saja bergoyang hampir 5 menit sekali.
Kami
tidur berhimpitan diruang tamu, ada Maria dan Fujitani San dari Asahi Shimbun
yang juga tidur dirumah. Reuters saya kasih 1 kamar karena barang mereka banyak
dan besar-besar. Pintu rumah jangankan dikunci di tutup juga enggak. Hanya
cahaya bulan yang menerangi tidur kami malam itu.
Hari
ke 3 tsunami, kami mulai kekurangan bahan makanan, tapi dipikiran saya adalah
susu anak yang tak kunjung di dapat, saya ingat kantor…ya Enseval Putra
Megatrading, merupakan distributor susu anak saya, saya berharap sekali kantor
itu jebol kayak toko-toko lainnya biar saya dapatkan susu…(jahat memang)
Pagi
itu saya jalan sama Mas Bea ke Peunayong, kami kunjungi boat besar yang
terdampar di depan hotel Medan, berdekatan dengan itu adalah kantor saya (Kalbe
farma berkantor di Enseval sebagai distributor). Kantor saya utuh karena
terhalang boat sedang yang terparkir manis di depan pintu kantor. Tidak ada
orang disana, saya coba cari setiap kaleng berwarna kuning (warna kaleng susu),
sambil menunggu Mas bea motret saya terus mencari, akhirnya saya dapatkan 1
kaleng susu sepertinya dari apotik Husada yang pas di sudut Jl. A. Yani itu.
Dengan kegirangan saya ucap syukur, Salsa dapatkan susunya….Alhamdulillah!!!
Duit
hari itu gak berharga, gak bisa saya belikan susu buat Salsa. Susu saya
dapatkan dari mengais. Kaleng susu 200 gram saya bawa pulang ibarat bawa pulang
bongkahan emas, Salsa bisa minum susu
lebih penting saat itu.
(nak…..Ibu
menangis sambil menulis ini)
Saat
itu, suami saya mulai bercerita tentang pusat gempa, berulang kali menyebutkan
nama Calang sebagai pusat gempa dan saya gak ngeh, akhirnya kabar dari Lhokruet
saya terima, kalau kampong halaman saya luluh lantak.
Saya
mencoba mencari tau tentang keluarga saya, keluarga besar saya…tapi siapa yang
bisa memberi khabar, jalan putus komunikasi tidak ada.
Kalau
beberapa hari ini saya tegar dan selalu berusaha membantu orang lain, saya
terpuruk, sering menangis dan memohon pada Allah untuk menyelamatkan keluarga
saya.
Hari
ke 5 tsunami baru saya dapat khabar bahwa Ayahanda Muhammad Husin Bin Ahmad,
Abang Muhammad, Muhammad Jalil dan 2 orang kakak par dan keponakan adik/abang
sepupu dinyatakan hilang. Innalillahi WaiInna Ilaihi Raji’un….
Sedangkan
mamak dan keluarga yang selamat lainnya sudah dievakuasi ke Lamno.
Ya
Allah, ini kenyataan….aku sudah menyaksikan dari hari pertama apa yang terjadi
disini, mayat yang bergelimpangan dan puing2 reruntuhan, saya gak pernah
menduga bahwa ini juga menimpa keluarga saya, ayah….
Di
rumah kian rame orang, kami gak kekurangan lagi bahan makanan karena Reuters
mengirim makanan dengan pesawat. Krue Reuters dari belahan dunia lain juga
berdatangan, ada Bobby dari Philipina yang selalu bilang spicy setiap mau
makan, Ahmed dari Maroko yang tinggi besar, ada dari Italy yang saya lupa
namanya…
Ada
Pak Dean Yates yang selalu pake sarung kalau sudah sore, seorang Australi yang
bahasanya bagus sekali. Ada Darren Photografer dari Canada yang super cuek
tapi bisa becanda, dia juga pernah mengirimin saya 4 kotak besar pizza….
Akhirnya
saya mengenal orang2 Reuters di seluruh dunia, ada Pak Jerry juga…beliau sudah
berpulang beberapa waktu yang lalu, saya ikut berduka.
Selain
itu dirumah kami ada dari Pikiran Rakyat Bandung, Zaky dan Lala…
Saya
banyak belajar juga dari mereka, sering juga perkataan yang spontan dari kita
menjadi bahan buat mereka.
Saya
mulai sering keluar rumah, kantor sudah mengirim bantuan dan Enseval juga
membagikan susu untuk anak, saya dapat 8 kaleng susu 400 gram, Salsa sementara
tidak akan kekurangan susu lagi, hanya saja dia sekarang minum susu 2 x sehari,
biar gak habis katanya…
Salsa
tidak tau tentang kerusakan kota, hanya saja dia pernah kami bawa sekali
keluar, agak heran dia kenapa orang sekarang buang sampah sembarangan, kami
biarkan dia dengan pemikirannya, terlalu kecil saat itu untuk diberi pemahaman
dengan kesedihan dan kehilangan.
10
tahun sudah, malam ini….saya mencoba mengenang semuanya, berdoa untuk
semuanya….
Yang
hilang memang tidak terganti, tapi saya dipertemukan dengan sahabat2 baru untuk
saling menguatkan dan mengingatkan, betapa dekatnya kita dengan kematian dan
kehilangan.
*** 25122014***
Tuesday, 23 December 2014
10 tahun yang lalu (part 1)
Dada serasa sesak setiap
mau memulai menulis tentang tsunami 10 tahun yang lalu, ada keharuan dan
perasaan kehilangan yang mendalam....betapa tidak, saat aku merasa tegar dengan
membantu orang-orang saat itupun juga aku harus mendengar orang-orang yang
kucintai "pergi" dan aku selalu kehilangan arah dari mana harus
memulai tulisan ini.
Pagi itu, 26 Desember
2004..
Alarm jam berbunyi jam
04.00 pagi, aku harus membangunkan suami yang akan ke airport Soetta di
Jakarta, dia akan pulang hari ini dan aku sangat takut dia terlambat. Firasat
buruk memang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, yang membuat aku sedikit
gelisah, ditambah dengan bunyi kicauan burung murai di rumah kami membuat aku
semakin tertekan. Setelah memastikan semua baik-baik saja dan suami sudah ke
airport aku melanjutkan tidur.
eh....bunyi alarm mobil
sekali lagi membangunkanku, aku mengintip keluar rumah yang masih gelap tidak
ada apapun, ah...alarm terlalu sensitif daun jatuh aja pasti teriak.
Aktifitas pagi yang lambat
karena hari minggu, membuat semuanya tidak diburu, Ti Yam, kakak yang dirumah
yang membantu kami sekeluarga baru saja membersihkan bak kamar mandi, air
dikuras habis.
Salsa yang waktu itu
berumur 3 tahun sedikit protes karena Mak Yam (panggilan dia untuk Ti Yam)
menghabiskan air dalam bak mandi, dia mau mandi karena malamnya kita sudah
merencakan belanja susu dan semua keperluan sehari-hari di Pante Pirak,
supermarket di kota kami, setelah itu kami akan jemput ayah di airport.
Tiba-tiba goncangan besar
terjadi, rumah seperti mau diangkat, saya dari kamar berlari menuju kamar mandi
di belakang, Salsa yang baru pipis dan kaget dengan keadaan gak mau digendong
karena belum di cebokin, sambil berpegangan di bak mandi saya cebokin Salsa
setelah itu kami berlari keluar,
Mobil berderet 4 buah
membuat saya gak berhasil membuka pintu pagar, mobil loncat-loncat dan kamipun
berguling...beberapa saat reda.
Gempa lagi....saya peluk
erat Salsa sambil berpegangan pada tiang listrik di depan rumah.
"Ibuuuu....sakit" kata Salsa sambil memeluk saya lebih erat.
Ternyata kepalanya
terantuk tiang listrik dan saya melepaskan pegangan....begitulah kami ketika
gempa dasyat yang mendatangkan gelombang tsunami itu dihari minggu, 26 Desember
2004.
Salsa yang bijak langsung
meminta penjelasanku, kenapa rumah kita bergoyang, kenapa orang berlarian
keluar..."Nak, itu gempa"
Lidah cadelnya bilang jempa.
Tidak berapa lami kami
dengar tentang Pante Pirak yang roboh dan Ie Beuna. Aku sedikit terpekur...Ie
Beuna?? berulang kali itu saya eja karena sering mendengar cerita ie beuna dari
laut, tapi apakah mungkin? terus bunyi letusan yang kami dengar itu bukannya
ledakan tabung gas?
tidak sempat terjawab,
saya langsung ajak Hendra, ponakan untuk mengungsi ke Mata Ie atau kemana yang
agak tinggi, saya baya 1 mobil, Hendra 1 dan 1 nya saya kasih ke tetangga,
karena mereka sudah bingung gak tau kemana.
Kami mengungsi ke
Beutong, dirumah saudara...
Orang-orang berlarian disepanjang jalan,
bahkan ada yang telanjang, Astaghfirullah……apa yang terjadi yang Allah. Bahkan aku
sempat kasih baju yang kebetulan sempat aku ambil ke orang-orang telanjang itu,
sambil aku olesin betadin di lukanya mereka bercerita tentang air laut yang
naik dan menghantam rumah dan menghanyutkan mereka. Ie beuna benar adanya dan
bukan pengantar tidur seperti yang sering mamak cerita.
Aku mulai resah, Salsa dan Ti Yam aman, aku
lantas ajak hendra dan Pul pulang ke rumah ke Lamlagang, alasan sih untuk
kunci pintu dan ambil makanan. Kami pulang ke rumah tukar mobil kijang dengan
ambulan PMI, alasannya sih lebih mudah dapat solar daripada bensin, benar aja.
Kami keliling kota dengan ambulan dan
pemandangan yang sangat memilukan, kota hancur. Puing-puing reruntuhan
berserakan, kami ternganga…
Kekuatan apa ini ya Allah, bathinku tiada
henti menjerit.
Tiba di rumah sakit dr. Zainal Abidin juga
dengan pemandangan yang sama, mulailah orang-orang minta tolong. Baru sadar
kalau kami bawa mobil ambulan PMI, dengan siaga kami mulai evakuasi orang-orang
luka rumah sakit Kesdam di Kuta Alam,saya senang sekali melakukannya, ber 3
kami angkat mayat atau orang yang luka tanpa sedikitpun rasa takut dan jijik. Kami
melakukan dengan hati-hati dan selalu memulai dengan Bismillah….Ada jenazah
tangannya penuh dengan gelang emas yang puluhan mayam dan kalung juga demikian,
saya selalu meminta Hendra dan Ipul istighfar supaya tidak tergoda, walaupun
nanti ada orang lain yang ambil.
Waktu rasanya gak bergerak ketiga tepat jam 15
sore hari kami meklinrasi jembatan Beurawe mau menuju ke Darussalam untuk
mencari Firdaus (adik Hendra), seorang bapak paruh baya menyetop ambulan kami,
dalam gendongan sang bapak seorang anak usia 8 tahun dengan badan biru dan
nafas sesak, aku langsung menggendong anak laki-laki itu dan mempersilahkan si
bapak naik di belakang.
Dalam balutan kain spanduk iklan, sianak menggigil
dan menceracau tidak jelas, bau tai yang sangat menyengat dan ketika saya lihat
yang dikeluarkan seperti nanah dan darah. Airmata saya mulai keluar, Ya Allah…apalagi
ini, ampunilah kami!
Saya hanya membisikkan Allah…Allah….Allah ke
telinga si anak, Ipul sampai menepuk pundak saya, ternyata saya histeris.
Baru 5 menit kami tiba di puskesmas lambaro,
sianak mash dalam gendongan saya ketika hembusan ringan nafas terakhirnya, saya
betul-betul histeris. Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un....
Akhirnya sang bapak yang menenangkan saya “Ibu,
ikhlaslah….dia sudah tenang disana” Tersadar saya, dengan kagumnya sama bapak
yang ikhlas melepaskan anak bungsunya kembali kepada Allah. Saya gak bisa
berkata-kata dan saya ucapkan belasungkawa dan saya kembali mencari ponakan dan
adik sepupu yang belum ketemu, jam sudah menunjukkan pukul 1700.
Habis kami telusuri kampus Unsyiah di Darussalam,
memanggil nama dan bertanya apakah ada yang kenal Firdaus dan Syukran, tak
seorangpun yang menjawab kenal dan tau, dengan keputus asaan kami mulai membuka
penutup mayat-mayat. Tidak kami temui juga wajahnya.
Memutuskan pulang dan panggilan ambulan di Jambo Tape, Jenazah seorang kakek yang akhirnya kami antar ke Jl. Cempaka kp.
Ateuk. Suara azan magrib sore itu sangat sendu saya rasakan, airmata tak
tertahankan ketika keluar dengan halus kami tolak waktu diberi uang dan pelukan
terimakasih tak ternilai rasanya saat itu, Ambulan dimundurkan dan kami pamit
dengan lambaian tangan dan matahari di hari tsunamipun tenggelam, saya berharap
ini hanya mimpi.
Wednesday, 3 December 2014
Jadilah Sahabat ‘Thalassemia’
Kamis, 8 Mei 2014 11:43 WIB
Oleh Nurjannah Husien
PERTENGAHAN April 2014 lalu, saya
dan teman-teman relawan yang tergabung dalam komunitas Darah Untuk Aceh (DUA),
berkunjung ke Sentra Thalassemia di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Ini, bukan
kunjungan pertama, sebab sebelumnya kami sudah beberapa kali melakukan hal
serupa. Seperti biasa, kami bertemu dengan para penghuni tetap ruangan
tersebut, dan bercanda, karena mereka adalah anak-anak yang menurut kami luar
biasa. Anak-anak penderita thalassemia.
Di sana, saya
menemukan seorang bayi perempuan lucu berumur 5 bulan, bernama Qonita. Saat
berumur 3 bulan, Qonita divonis menderita thalassemia. Ini berarti, sejak saat itu ia sudah harus
akrab dengan jarum suntik dan transfusi darah setiap bulannya. Demikian pula
saat saya kunjungi, sebuah jarum suntik menusuk kulit halusnya dan mengalirkan
cairan darah yang harus segera ditransfusi. Ini adalah bulan ketiga ia
menjalani transfusi darah.
Thalassemia adalah salah satu
jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan, yang diturunkan secara
autosomal yang paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia. Enam sampai
sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Thalassemia merupakan satu penyakit menahun, yang
diturunkan dalam keluarga, dan menyebabkan timbulnya anemia, mulai dari anemia
ringan sampai berat. Anemia adalah kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah dalam darah menurun. Hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke
seluruh tubuh.
Menurut dokter Zubairi
Djoerban, spesialis penyakit dalam dan guru besar FKUI pada penderita
thalasemia terjadi perubahan atau mutasi gen, yaitu pembawa kode genetik untuk
pembuatanhemoglobin.
Akibatnya kualitas sel darah merah tidak baik dan tidak dapat bertahan hidup
lama, tidak bisa bertahan sepanjang hidup sel darah merah normal. Manifestasi
yang dirasakan pasien adalah cepat capai, terlebih bila naik tangga atau harus
berjalan cepat, apalagi berlari.
Thalassemia diturunkan dari orang
tua ke anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bila gen penyebab thalassemia berasal dari kedua orang tuanya (ayah dan
ibu), maka seseorang dapat menderita thalasemia dengan manifestasi klinis
sedang hingga berat. Namun bila gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari
salah satu orang tua, maka umumnya anak tersebut hanya menderita thalassemia dengan manifestasi klinis yang ringan, bahkan
kadang tidak ada gejala klinis yang timbul. Orang dengan gen pembawa thalassemia, namun tanpa gejala ini disebut pembawa sifat
atau karier thalassemia. Walaupun tanpa gejala, karier thalassemia tetap akan menurunkan gen pembawa sifatthalassemia ini pada keturunannya (www.republika.co.id).
Aceh tertinggi
Aceh, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI 2010, adalah daerah dengan
persentase tertinggi penderita thalassemia, yaitu sebesar 13,5%. Sehingga Aceh menjadi daerah sabuk untuk
penyakit ini. Celakanya, penyakit yang mewajibkan penderitanya untuk transfusi
darah setiap kurun waktu tertentu seumur hidupnya ini, sering tidak bisa
dikenali oleh masyarakat kita.
Bahkan, sebagian besar
masyarakat kita menganggap jika bayi dan anak mereka memiliki gejala-gejala
tubuh kuning, mudah lelah, perut buncit karena adanya pembesaran hati dan
limpa, warna urine yang lebih gelap atau gangguan pertumbuhan, justru dianggap
sebagai sebuah penyakit kutukan, dan tidak perlu diidentifikasi ke rumah sakit.
Pemahaman seperti ini harus dihilangkan dari masyarakat jika ingin
keberlangsungan generasi pewaris bisa terus dipertahankan.
Bisa dibayangkan jika
tidak ada upaya pencegahan dari penyakit ini sejak awal, bisa dipastikan
sepuluh hingga dua puluh tahun yang akan datang, Aceh akan kehilangan generasi
mudanya. Harapan terbesar tentunya pemerintah bisa memainkan perannya untuk
melakukan upaya pencegahan dan peutusan rantai penyakit ini.Thalassemia hanya bisa dicegah dengan cara tidak
mempertemukan orang pembawa tersebut dalam satu ikatan perkawinan.
Darah Untuk Aceh (DUA)
sendiri adalah satu wadah perkumpulan para pendonor darah sukarela dan tetap
yang berdomisili di Aceh, resmi dibentuk pada 24 April 2012. Komunitas ini
semula adalah kumpulan relawan pencinta lingkungan yang concern dan peduli pada kegiatan sosial seperti donor
darah. Mengingat pemenuhan ketersediaan darah di PMI sangat minim, mereka pun
kemudian membentuk komunitas ini.
Untuk memenuhi
kebutuhan darah yang berkualitas bagi penderitathalassemia (thallers), DUA meluncurkan program #10for1 Thalassemia. Ini merupakan program kakak asuh untuk
penderitathalassemia.
Program ini mengumpulkan 10 orang pendonor (blooders) sebagai kakak asuh untuk satu penderita thalassemia(adik asuh).
Sepuluh orang tersebut
bergiliran mendonorkan darahnya setiap 3 bulan (1 bulan 3 orang, dan 1 orang
sebagai cadangan). Dengan program ini diharapkan penderita Thalassemia bisa mendapatkan jaminan transfusi secara
teratur tiap bulan sehingga kualitas hidup bisa meningkat dan terjaga. Manfaat
lain program #10for1Thalassemia adalah, penderita thalassemia hanya menerima darah dari sejumlah orang yang
sama, sehingga meminimalkan efek samping akibat transfusi. Kampanye untuk
program #10for1Thalassemia dan menjaring pendonor
darah dilakukan via media sosial (Twitter, Facebook, dll) dan dalam kegiatan lain yang dilakukan.
Untuk 1 orang thaller
(penderita thalassemia), dibutuhkan 10 orangblooders (pendonor), sehingga bila dengan data 200
orang thallersyang terdata sekarang di DUA, maka dibutuhkan
2.000 orangblooders.
Sementara, jumlah blooders yang terdata pada DUA hanya sekitar 400 orang, sehingga masih
butuh banyak pendonor lainnya.
Hari Thalassemia
Untuk terus mengingatkan masyarakat, lembaga FederasiThalassemia International (Thalassaemia
International Federation - TIF) yang merupakan
mitra dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejak 1994 telah menetapkan 8 Mei sebagai
Hari ThalassemiaInternasional. Tanggal ini dipilih sebagai
hari untuk mendedikasikan perhatian yang tidak pernah putus terhadap semua
penderitathalassemia yang sudah meninggal
dunia.
Lembaga yang berbasis
di Cyprus tersebut, memilih tema yang berbeda untuk setiap tahunnya. Cyprus
adalah negara asal dariThalassemia,
dimana kini sudah menjadi negara yang zerothalassemia. Ini terjadi karena opemerintah Cyprus
mengeluarkan sebuah undang-undang yang melarang pernikahan di antara sesama
pembawa sifat thalassemia, sehingga rantai penyebaran bisa diputuskan.
TIF berfokus pada tema
yang berbeda yang mengintervensi dengan kualitas dan perawatan yang tepat dari
pasien dan dampak kualitas hidup mereka. Tahun ini tema yang diusung adalah
“Kebersamaan untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan yang Dilakukan Secara
Bersama Meski dalam Kondisi Ekonomi yang Sulit” (www.thalassaemia.org.cy). Dengan momentum ini, saya ingin mengajak
masyarakat kita, mari dengan sukarela menjadiblooders bagi anak-anak yang menderita thalassemia, sehingga kebutuhan darah untuk mereka selalu
terjamin.
Jika kita selaku orang
normal, saat ini masih punya pilihan untuk tidak ingin mendonorkan darah, hanya
karena alasan takut jarum suntik dan alasan non medis lainnya, maka para thallers dengan usia belianya tidak pernah punya
pilihan dalam hidupnya untuk tidak mau berdekatan atau bersentuhan dengan jarum
transfusi.
Selain itu, bagi
generasi muda, diharapkan senantiasa melakukan pemeriksaan dini, terutama bagi
yang memang sedang merencanakan hidup berumah tangga. Setidaknya jika ingin
berumah tangga, hendaknya kita memeriksakan kesehatan terlebih dulu --terutama
pemeriksaan darah-- sehingga keluarga yang berkualitas bisa kita raih di masa
yang akan datang. Jadilah sahabat thalassemia, dan mari putuskan mata rantainya!
Nurjannah Husien, Founder Komunitas Darah Untuk Aceh (DUA), dan
Pendamping pasien Thalassemia di Aceh. Email: nunu.husien@gmail.com dan
darahuntukaceh@ymail.com
Source : Harian Serambi Indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2014/05/08/jadilah-sahabat-thalassemia
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)
.jpg)