Kamis, 8 Mei 2014 11:43 WIB
Oleh Nurjannah Husien
PERTENGAHAN April 2014 lalu, saya
dan teman-teman relawan yang tergabung dalam komunitas Darah Untuk Aceh (DUA),
berkunjung ke Sentra Thalassemia di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Ini, bukan
kunjungan pertama, sebab sebelumnya kami sudah beberapa kali melakukan hal
serupa. Seperti biasa, kami bertemu dengan para penghuni tetap ruangan
tersebut, dan bercanda, karena mereka adalah anak-anak yang menurut kami luar
biasa. Anak-anak penderita thalassemia.
Di sana, saya
menemukan seorang bayi perempuan lucu berumur 5 bulan, bernama Qonita. Saat
berumur 3 bulan, Qonita divonis menderita thalassemia. Ini berarti, sejak saat itu ia sudah harus
akrab dengan jarum suntik dan transfusi darah setiap bulannya. Demikian pula
saat saya kunjungi, sebuah jarum suntik menusuk kulit halusnya dan mengalirkan
cairan darah yang harus segera ditransfusi. Ini adalah bulan ketiga ia
menjalani transfusi darah.
Thalassemia adalah salah satu
jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan, yang diturunkan secara
autosomal yang paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia. Enam sampai
sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Thalassemia merupakan satu penyakit menahun, yang
diturunkan dalam keluarga, dan menyebabkan timbulnya anemia, mulai dari anemia
ringan sampai berat. Anemia adalah kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah dalam darah menurun. Hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke
seluruh tubuh.
Menurut dokter Zubairi
Djoerban, spesialis penyakit dalam dan guru besar FKUI pada penderita
thalasemia terjadi perubahan atau mutasi gen, yaitu pembawa kode genetik untuk
pembuatanhemoglobin.
Akibatnya kualitas sel darah merah tidak baik dan tidak dapat bertahan hidup
lama, tidak bisa bertahan sepanjang hidup sel darah merah normal. Manifestasi
yang dirasakan pasien adalah cepat capai, terlebih bila naik tangga atau harus
berjalan cepat, apalagi berlari.
Thalassemia diturunkan dari orang
tua ke anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bila gen penyebab thalassemia berasal dari kedua orang tuanya (ayah dan
ibu), maka seseorang dapat menderita thalasemia dengan manifestasi klinis
sedang hingga berat. Namun bila gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari
salah satu orang tua, maka umumnya anak tersebut hanya menderita thalassemia dengan manifestasi klinis yang ringan, bahkan
kadang tidak ada gejala klinis yang timbul. Orang dengan gen pembawa thalassemia, namun tanpa gejala ini disebut pembawa sifat
atau karier thalassemia. Walaupun tanpa gejala, karier thalassemia tetap akan menurunkan gen pembawa sifatthalassemia ini pada keturunannya (www.republika.co.id).
Aceh tertinggi
Aceh, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI 2010, adalah daerah dengan
persentase tertinggi penderita thalassemia, yaitu sebesar 13,5%. Sehingga Aceh menjadi daerah sabuk untuk
penyakit ini. Celakanya, penyakit yang mewajibkan penderitanya untuk transfusi
darah setiap kurun waktu tertentu seumur hidupnya ini, sering tidak bisa
dikenali oleh masyarakat kita.
Bahkan, sebagian besar
masyarakat kita menganggap jika bayi dan anak mereka memiliki gejala-gejala
tubuh kuning, mudah lelah, perut buncit karena adanya pembesaran hati dan
limpa, warna urine yang lebih gelap atau gangguan pertumbuhan, justru dianggap
sebagai sebuah penyakit kutukan, dan tidak perlu diidentifikasi ke rumah sakit.
Pemahaman seperti ini harus dihilangkan dari masyarakat jika ingin
keberlangsungan generasi pewaris bisa terus dipertahankan.
Bisa dibayangkan jika
tidak ada upaya pencegahan dari penyakit ini sejak awal, bisa dipastikan
sepuluh hingga dua puluh tahun yang akan datang, Aceh akan kehilangan generasi
mudanya. Harapan terbesar tentunya pemerintah bisa memainkan perannya untuk
melakukan upaya pencegahan dan peutusan rantai penyakit ini.Thalassemia hanya bisa dicegah dengan cara tidak
mempertemukan orang pembawa tersebut dalam satu ikatan perkawinan.
Darah Untuk Aceh (DUA)
sendiri adalah satu wadah perkumpulan para pendonor darah sukarela dan tetap
yang berdomisili di Aceh, resmi dibentuk pada 24 April 2012. Komunitas ini
semula adalah kumpulan relawan pencinta lingkungan yang concern dan peduli pada kegiatan sosial seperti donor
darah. Mengingat pemenuhan ketersediaan darah di PMI sangat minim, mereka pun
kemudian membentuk komunitas ini.
Untuk memenuhi
kebutuhan darah yang berkualitas bagi penderitathalassemia (thallers), DUA meluncurkan program #10for1 Thalassemia. Ini merupakan program kakak asuh untuk
penderitathalassemia.
Program ini mengumpulkan 10 orang pendonor (blooders) sebagai kakak asuh untuk satu penderita thalassemia(adik asuh).
Sepuluh orang tersebut
bergiliran mendonorkan darahnya setiap 3 bulan (1 bulan 3 orang, dan 1 orang
sebagai cadangan). Dengan program ini diharapkan penderita Thalassemia bisa mendapatkan jaminan transfusi secara
teratur tiap bulan sehingga kualitas hidup bisa meningkat dan terjaga. Manfaat
lain program #10for1Thalassemia adalah, penderita thalassemia hanya menerima darah dari sejumlah orang yang
sama, sehingga meminimalkan efek samping akibat transfusi. Kampanye untuk
program #10for1Thalassemia dan menjaring pendonor
darah dilakukan via media sosial (Twitter, Facebook, dll) dan dalam kegiatan lain yang dilakukan.
Untuk 1 orang thaller
(penderita thalassemia), dibutuhkan 10 orangblooders (pendonor), sehingga bila dengan data 200
orang thallersyang terdata sekarang di DUA, maka dibutuhkan
2.000 orangblooders.
Sementara, jumlah blooders yang terdata pada DUA hanya sekitar 400 orang, sehingga masih
butuh banyak pendonor lainnya.
Hari Thalassemia
Untuk terus mengingatkan masyarakat, lembaga FederasiThalassemia International (Thalassaemia
International Federation - TIF) yang merupakan
mitra dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejak 1994 telah menetapkan 8 Mei sebagai
Hari ThalassemiaInternasional. Tanggal ini dipilih sebagai
hari untuk mendedikasikan perhatian yang tidak pernah putus terhadap semua
penderitathalassemia yang sudah meninggal
dunia.
Lembaga yang berbasis
di Cyprus tersebut, memilih tema yang berbeda untuk setiap tahunnya. Cyprus
adalah negara asal dariThalassemia,
dimana kini sudah menjadi negara yang zerothalassemia. Ini terjadi karena opemerintah Cyprus
mengeluarkan sebuah undang-undang yang melarang pernikahan di antara sesama
pembawa sifat thalassemia, sehingga rantai penyebaran bisa diputuskan.
TIF berfokus pada tema
yang berbeda yang mengintervensi dengan kualitas dan perawatan yang tepat dari
pasien dan dampak kualitas hidup mereka. Tahun ini tema yang diusung adalah
“Kebersamaan untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan yang Dilakukan Secara
Bersama Meski dalam Kondisi Ekonomi yang Sulit” (www.thalassaemia.org.cy). Dengan momentum ini, saya ingin mengajak
masyarakat kita, mari dengan sukarela menjadiblooders bagi anak-anak yang menderita thalassemia, sehingga kebutuhan darah untuk mereka selalu
terjamin.
Jika kita selaku orang
normal, saat ini masih punya pilihan untuk tidak ingin mendonorkan darah, hanya
karena alasan takut jarum suntik dan alasan non medis lainnya, maka para thallers dengan usia belianya tidak pernah punya
pilihan dalam hidupnya untuk tidak mau berdekatan atau bersentuhan dengan jarum
transfusi.
Selain itu, bagi
generasi muda, diharapkan senantiasa melakukan pemeriksaan dini, terutama bagi
yang memang sedang merencanakan hidup berumah tangga. Setidaknya jika ingin
berumah tangga, hendaknya kita memeriksakan kesehatan terlebih dulu --terutama
pemeriksaan darah-- sehingga keluarga yang berkualitas bisa kita raih di masa
yang akan datang. Jadilah sahabat thalassemia, dan mari putuskan mata rantainya!
Nurjannah Husien, Founder Komunitas Darah Untuk Aceh (DUA), dan
Pendamping pasien Thalassemia di Aceh. Email: nunu.husien@gmail.com dan
darahuntukaceh@ymail.com
Source : Harian Serambi Indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2014/05/08/jadilah-sahabat-thalassemia