Dada serasa sesak setiap
mau memulai menulis tentang tsunami 10 tahun yang lalu, ada keharuan dan
perasaan kehilangan yang mendalam....betapa tidak, saat aku merasa tegar dengan
membantu orang-orang saat itupun juga aku harus mendengar orang-orang yang
kucintai "pergi" dan aku selalu kehilangan arah dari mana harus
memulai tulisan ini.
Pagi itu, 26 Desember
2004..
Alarm jam berbunyi jam
04.00 pagi, aku harus membangunkan suami yang akan ke airport Soetta di
Jakarta, dia akan pulang hari ini dan aku sangat takut dia terlambat. Firasat
buruk memang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, yang membuat aku sedikit
gelisah, ditambah dengan bunyi kicauan burung murai di rumah kami membuat aku
semakin tertekan. Setelah memastikan semua baik-baik saja dan suami sudah ke
airport aku melanjutkan tidur.
eh....bunyi alarm mobil
sekali lagi membangunkanku, aku mengintip keluar rumah yang masih gelap tidak
ada apapun, ah...alarm terlalu sensitif daun jatuh aja pasti teriak.
Aktifitas pagi yang lambat
karena hari minggu, membuat semuanya tidak diburu, Ti Yam, kakak yang dirumah
yang membantu kami sekeluarga baru saja membersihkan bak kamar mandi, air
dikuras habis.
Salsa yang waktu itu
berumur 3 tahun sedikit protes karena Mak Yam (panggilan dia untuk Ti Yam)
menghabiskan air dalam bak mandi, dia mau mandi karena malamnya kita sudah
merencakan belanja susu dan semua keperluan sehari-hari di Pante Pirak,
supermarket di kota kami, setelah itu kami akan jemput ayah di airport.
Tiba-tiba goncangan besar
terjadi, rumah seperti mau diangkat, saya dari kamar berlari menuju kamar mandi
di belakang, Salsa yang baru pipis dan kaget dengan keadaan gak mau digendong
karena belum di cebokin, sambil berpegangan di bak mandi saya cebokin Salsa
setelah itu kami berlari keluar,
Mobil berderet 4 buah
membuat saya gak berhasil membuka pintu pagar, mobil loncat-loncat dan kamipun
berguling...beberapa saat reda.
Gempa lagi....saya peluk
erat Salsa sambil berpegangan pada tiang listrik di depan rumah.
"Ibuuuu....sakit" kata Salsa sambil memeluk saya lebih erat.
Ternyata kepalanya
terantuk tiang listrik dan saya melepaskan pegangan....begitulah kami ketika
gempa dasyat yang mendatangkan gelombang tsunami itu dihari minggu, 26 Desember
2004.
Salsa yang bijak langsung
meminta penjelasanku, kenapa rumah kita bergoyang, kenapa orang berlarian
keluar..."Nak, itu gempa"
Lidah cadelnya bilang jempa.
Tidak berapa lami kami
dengar tentang Pante Pirak yang roboh dan Ie Beuna. Aku sedikit terpekur...Ie
Beuna?? berulang kali itu saya eja karena sering mendengar cerita ie beuna dari
laut, tapi apakah mungkin? terus bunyi letusan yang kami dengar itu bukannya
ledakan tabung gas?
tidak sempat terjawab,
saya langsung ajak Hendra, ponakan untuk mengungsi ke Mata Ie atau kemana yang
agak tinggi, saya baya 1 mobil, Hendra 1 dan 1 nya saya kasih ke tetangga,
karena mereka sudah bingung gak tau kemana.
Kami mengungsi ke
Beutong, dirumah saudara...
Orang-orang berlarian disepanjang jalan,
bahkan ada yang telanjang, Astaghfirullah……apa yang terjadi yang Allah. Bahkan aku
sempat kasih baju yang kebetulan sempat aku ambil ke orang-orang telanjang itu,
sambil aku olesin betadin di lukanya mereka bercerita tentang air laut yang
naik dan menghantam rumah dan menghanyutkan mereka. Ie beuna benar adanya dan
bukan pengantar tidur seperti yang sering mamak cerita.
Aku mulai resah, Salsa dan Ti Yam aman, aku
lantas ajak hendra dan Pul pulang ke rumah ke Lamlagang, alasan sih untuk
kunci pintu dan ambil makanan. Kami pulang ke rumah tukar mobil kijang dengan
ambulan PMI, alasannya sih lebih mudah dapat solar daripada bensin, benar aja.
Kami keliling kota dengan ambulan dan
pemandangan yang sangat memilukan, kota hancur. Puing-puing reruntuhan
berserakan, kami ternganga…
Kekuatan apa ini ya Allah, bathinku tiada
henti menjerit.
Tiba di rumah sakit dr. Zainal Abidin juga
dengan pemandangan yang sama, mulailah orang-orang minta tolong. Baru sadar
kalau kami bawa mobil ambulan PMI, dengan siaga kami mulai evakuasi orang-orang
luka rumah sakit Kesdam di Kuta Alam,saya senang sekali melakukannya, ber 3
kami angkat mayat atau orang yang luka tanpa sedikitpun rasa takut dan jijik. Kami
melakukan dengan hati-hati dan selalu memulai dengan Bismillah….Ada jenazah
tangannya penuh dengan gelang emas yang puluhan mayam dan kalung juga demikian,
saya selalu meminta Hendra dan Ipul istighfar supaya tidak tergoda, walaupun
nanti ada orang lain yang ambil.
Waktu rasanya gak bergerak ketiga tepat jam 15
sore hari kami meklinrasi jembatan Beurawe mau menuju ke Darussalam untuk
mencari Firdaus (adik Hendra), seorang bapak paruh baya menyetop ambulan kami,
dalam gendongan sang bapak seorang anak usia 8 tahun dengan badan biru dan
nafas sesak, aku langsung menggendong anak laki-laki itu dan mempersilahkan si
bapak naik di belakang.
Dalam balutan kain spanduk iklan, sianak menggigil
dan menceracau tidak jelas, bau tai yang sangat menyengat dan ketika saya lihat
yang dikeluarkan seperti nanah dan darah. Airmata saya mulai keluar, Ya Allah…apalagi
ini, ampunilah kami!
Saya hanya membisikkan Allah…Allah….Allah ke
telinga si anak, Ipul sampai menepuk pundak saya, ternyata saya histeris.
Baru 5 menit kami tiba di puskesmas lambaro,
sianak mash dalam gendongan saya ketika hembusan ringan nafas terakhirnya, saya
betul-betul histeris. Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un....
Akhirnya sang bapak yang menenangkan saya “Ibu,
ikhlaslah….dia sudah tenang disana” Tersadar saya, dengan kagumnya sama bapak
yang ikhlas melepaskan anak bungsunya kembali kepada Allah. Saya gak bisa
berkata-kata dan saya ucapkan belasungkawa dan saya kembali mencari ponakan dan
adik sepupu yang belum ketemu, jam sudah menunjukkan pukul 1700.
Habis kami telusuri kampus Unsyiah di Darussalam,
memanggil nama dan bertanya apakah ada yang kenal Firdaus dan Syukran, tak
seorangpun yang menjawab kenal dan tau, dengan keputus asaan kami mulai membuka
penutup mayat-mayat. Tidak kami temui juga wajahnya.
Memutuskan pulang dan panggilan ambulan di Jambo Tape, Jenazah seorang kakek yang akhirnya kami antar ke Jl. Cempaka kp.
Ateuk. Suara azan magrib sore itu sangat sendu saya rasakan, airmata tak
tertahankan ketika keluar dengan halus kami tolak waktu diberi uang dan pelukan
terimakasih tak ternilai rasanya saat itu, Ambulan dimundurkan dan kami pamit
dengan lambaian tangan dan matahari di hari tsunamipun tenggelam, saya berharap
ini hanya mimpi.
No comments:
Post a Comment