Tuesday, 23 December 2014

10 tahun yang lalu (part 1)

Dada serasa sesak setiap mau memulai menulis tentang tsunami 10 tahun yang lalu, ada keharuan dan perasaan kehilangan yang mendalam....betapa tidak, saat aku merasa tegar dengan membantu orang-orang saat itupun juga aku harus mendengar orang-orang yang kucintai "pergi" dan aku selalu kehilangan arah dari mana harus memulai tulisan ini.
Pagi itu, 26 Desember 2004..
Alarm jam berbunyi jam 04.00 pagi, aku harus membangunkan suami yang akan ke airport Soetta di Jakarta, dia akan pulang hari ini dan aku sangat takut dia terlambat. Firasat buruk memang sudah terjadi beberapa hari sebelumnya, yang membuat aku sedikit gelisah, ditambah dengan bunyi kicauan burung murai di rumah kami membuat aku semakin tertekan. Setelah memastikan semua baik-baik saja dan suami sudah ke airport aku melanjutkan tidur.
eh....bunyi alarm mobil sekali lagi membangunkanku, aku mengintip keluar rumah yang masih gelap tidak ada apapun, ah...alarm terlalu sensitif daun jatuh aja pasti teriak.

Aktifitas pagi yang lambat karena hari minggu, membuat semuanya tidak diburu, Ti Yam, kakak yang dirumah yang membantu kami sekeluarga baru saja membersihkan bak kamar mandi, air dikuras habis.
Salsa yang waktu itu berumur 3 tahun sedikit protes karena Mak Yam (panggilan dia untuk Ti Yam) menghabiskan air dalam bak mandi, dia mau mandi karena malamnya kita sudah merencakan belanja susu dan semua keperluan sehari-hari di Pante Pirak, supermarket di kota kami, setelah itu kami akan jemput ayah di airport.
Tiba-tiba goncangan besar terjadi, rumah seperti mau diangkat, saya dari kamar berlari menuju kamar mandi di belakang, Salsa yang baru pipis dan kaget dengan keadaan gak mau digendong karena belum di cebokin, sambil berpegangan di bak mandi saya cebokin Salsa setelah itu kami berlari keluar, 
Mobil berderet 4 buah membuat saya gak berhasil membuka pintu pagar, mobil loncat-loncat dan kamipun berguling...beberapa saat reda.
Gempa lagi....saya peluk erat Salsa sambil berpegangan pada tiang listrik di depan rumah. "Ibuuuu....sakit" kata Salsa sambil memeluk saya lebih erat.
Ternyata kepalanya terantuk tiang listrik dan saya melepaskan pegangan....begitulah kami ketika gempa dasyat yang mendatangkan gelombang tsunami itu dihari minggu, 26 Desember 2004.

Salsa yang bijak langsung meminta penjelasanku, kenapa rumah kita bergoyang, kenapa orang berlarian keluar..."Nak, itu gempa"
Lidah cadelnya bilang jempa.
Tidak berapa lami kami dengar tentang Pante Pirak yang roboh dan Ie Beuna. Aku sedikit terpekur...Ie Beuna?? berulang kali itu saya eja karena sering mendengar cerita ie beuna dari laut, tapi apakah mungkin? terus bunyi letusan yang kami dengar itu bukannya ledakan tabung gas?
tidak sempat terjawab, saya langsung ajak Hendra, ponakan untuk mengungsi ke Mata Ie atau kemana yang agak tinggi, saya baya 1 mobil, Hendra 1 dan 1 nya saya kasih ke tetangga, karena mereka sudah bingung gak tau kemana.
 Kami mengungsi ke Beutong, dirumah saudara...
Orang-orang berlarian disepanjang jalan, bahkan ada yang telanjang, Astaghfirullah……apa yang terjadi yang Allah. Bahkan aku sempat kasih baju yang kebetulan sempat aku ambil ke orang-orang telanjang itu, sambil aku olesin betadin di lukanya mereka bercerita tentang air laut yang naik dan menghantam rumah dan menghanyutkan mereka. Ie beuna benar adanya dan bukan pengantar tidur seperti yang sering mamak cerita.
Aku mulai resah, Salsa dan Ti Yam aman, aku lantas ajak hendra dan Pul pulang ke rumah ke Lamlagang, alasan sih untuk kunci pintu dan ambil makanan. Kami pulang ke rumah tukar mobil kijang dengan ambulan PMI, alasannya sih lebih mudah dapat solar daripada bensin, benar aja.
Kami keliling kota dengan ambulan dan pemandangan yang sangat memilukan, kota hancur. Puing-puing reruntuhan berserakan, kami ternganga…
Kekuatan apa ini ya Allah, bathinku tiada henti menjerit.
Tiba di rumah sakit dr. Zainal Abidin juga dengan pemandangan yang sama, mulailah orang-orang minta tolong. Baru sadar kalau kami bawa mobil ambulan PMI, dengan siaga kami mulai evakuasi orang-orang luka rumah sakit Kesdam di Kuta Alam,saya senang sekali melakukannya, ber 3 kami angkat mayat atau orang yang luka tanpa sedikitpun rasa takut dan jijik. Kami melakukan dengan hati-hati dan selalu memulai dengan Bismillah….Ada jenazah tangannya penuh dengan gelang emas yang puluhan mayam dan kalung juga demikian, saya selalu meminta Hendra dan Ipul istighfar supaya tidak tergoda, walaupun nanti ada orang lain yang ambil.
Waktu rasanya gak bergerak ketiga tepat jam 15 sore hari kami meklinrasi jembatan Beurawe mau menuju ke Darussalam untuk mencari Firdaus (adik Hendra), seorang bapak paruh baya menyetop ambulan kami, dalam gendongan sang bapak seorang anak usia 8 tahun dengan badan biru dan nafas sesak, aku langsung menggendong anak laki-laki itu dan mempersilahkan si bapak naik di belakang.
Dalam balutan kain spanduk iklan, sianak menggigil dan menceracau tidak jelas, bau tai yang sangat menyengat dan ketika saya lihat yang dikeluarkan seperti nanah dan darah. Airmata saya mulai keluar, Ya Allah…apalagi ini, ampunilah kami!
Saya hanya membisikkan Allah…Allah….Allah ke telinga si anak, Ipul sampai menepuk pundak saya, ternyata saya histeris.
Baru 5 menit kami tiba di puskesmas lambaro, sianak mash dalam gendongan saya ketika hembusan ringan nafas terakhirnya, saya betul-betul histeris. Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un....
Akhirnya sang bapak yang menenangkan saya “Ibu, ikhlaslah….dia sudah tenang disana” Tersadar saya, dengan kagumnya sama bapak yang ikhlas melepaskan anak bungsunya kembali kepada Allah. Saya gak bisa berkata-kata dan saya ucapkan belasungkawa dan saya kembali mencari ponakan dan adik sepupu yang belum ketemu, jam sudah menunjukkan pukul 1700.
Habis kami telusuri kampus Unsyiah di Darussalam, memanggil nama dan bertanya apakah ada yang kenal Firdaus dan Syukran, tak seorangpun yang menjawab kenal dan tau, dengan keputus asaan kami mulai membuka penutup mayat-mayat. Tidak kami temui juga wajahnya.
Memutuskan pulang dan panggilan ambulan di Jambo Tape, Jenazah seorang kakek yang akhirnya kami antar ke Jl. Cempaka kp. Ateuk. Suara azan magrib sore itu sangat sendu saya rasakan, airmata tak tertahankan ketika keluar dengan halus kami tolak waktu diberi uang dan pelukan terimakasih tak ternilai rasanya saat itu, Ambulan dimundurkan dan kami pamit dengan lambaian tangan dan matahari di hari tsunamipun tenggelam, saya berharap ini hanya mimpi.



No comments:

Post a Comment